Jakarta – Industri petrokimia nasional masih menghadapi tekanan akibat ketergantungan bahan baku impor dan masuknya produk plastik murah dari China yang menekan daya saing industri dalam negeri.
Anggota Komisi VII DPR RI Bambang Haryo Soekartono menilai pemerintah perlu memperkuat industri nasional melalui kebijakan yang mendorong penggunaan bahan baku lokal dan melindungi pelaku usaha dari tekanan produk impor.
BACA JUGA:Nilai Impor Migas Melonjak 49,91% di Juli 2026, Dipicu Harga Minyak Dunia
BACA JUGA:Bos Serikat Pekerja Ungkap 4 Faktor Penyebab Marak PHK
BACA JUGA:Industri Petrokimia Masih Bergantung Bahan Baku Impor
“Kalau plastik ini kita tergerus dengan adanya impor dari China, ini memang cukup mempersulit industri. Karena industri plastik kita ini juga impor bahan bakunya,” kata Bambang kepada wartawan, Rabu (2/9/2026).
Sekretaris Jenderal INAPLAS Fajar Budiono mengatakan kondisi industri petrokimia mulai memasuki fase pemulihan, tetapi harga, logistik, daya beli, dan pasokan bahan baku masih menekan aktivitas usaha.
“Memang posisinya itu masih belum menentu dari sisi harga karena naik turun karena memang geopolitik masih begini. Tetapi untuk beberapa komoditas, kendalanya bukan masalah bahan baku dan harga, melainkan logistik,” ujar Fajar.
Fajar mengatakan kenaikan biaya pengiriman membuat harga barang impor meningkat dan mendorong pasar domestik menahan pembelian sambil menunggu kepastian harga serta distribusi.
“Freight-nya itu mahal-mahal semua, sehingga barang-barang impor pun mulai turun. Dari Cina juga sudah mulai agak tinggi harganya, tetapi pasar lokal masih wait and see,” kata Fajar.

/2026/04/21/554952456.jpg)
/2017/01/20/1509762729.jpg)
/2022/09/23/947823179.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9338953/original/080395400_1788354869-email-attachment_2026_09_02_immanuel-christian_buruh-soroti-sejumlah-substansi-dalam-draft-ruu-ketenagakerjaan_b1cbc75e-587c-4d5f-be90-7faffbdead24.jpeg)

:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5277965/original/072538000_1752051227-AP25190063457589.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5420194/original/096245700_1763728465-IMG_0140.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4151491/original/074141100_1662635695-Kenaikan-Harga-Beras-Imbas-BBM-Iqbal-4.jpg)




:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9333302/original/015287500_1787741575-gb6.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9338027/original/083819600_1788273977-1000427216.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5569336/original/055015700_1777438671-2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3617288/original/052829700_1635503921-20211029-Neraca-perdagangan-RI-alamai-surplus-ANGGA-4.jpg)