Jakarta – Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali menjadi sorotan di tengah ketidakpastian global. Presiden Direktur PT Doo Financial Futures, Ariston Tjendra, menilai peluang rupiah menembus level Rp 18.000 per dolar AS masih terbuka, terutama karena faktor eksternal yang belum mereda.
Ia menjelaskan bahwa salah satu pemicu utama masih berasal dari dinamika geopolitik global yang belum menemukan kepastian.
BACA JUGA:Purbaya Bantah Pelemahan Rupiah Dipicu Fiskal
BACA JUGA:Emiten Produsen Emas Ini Pede Bisnis Tetap Cerah di Tengah Pelemahan Rupiah
BACA JUGA:Rupiah Nyaris Tembus Rp 18.000 per Dolar AS, Konflik Timur Tengah Jadi Pemicu
“Kemungkinan ke sana masih terbuka karena isu perdamaian antara AS dan Iran masih tarik ulur dan belum pasti, sehingga sentimen pasar masih bisa terus berubah dan memberikan tekanan terhadap pergerakan rupiah di pasar global,” ujarnya kepada Rabu (3/6/2026).
Lebih lanjut, Ariston menyoroti bahwa pelemahan rupiah dapat memberikan dampak langsung terhadap kondisi ekonomi masyarakat, terutama dari sisi harga barang konsumsi yang cenderung meningkat akibat tingginya kandungan impor, ditambah tekanan dari harga minyak mentah dunia.
“Dampak nyatanya jelas ke harga barang-barang konsumsi meningkat karena banyak kandungan impor di barang konsumsi kita. Belum lagi dampak dari kenaikan harga minyak mentah yang ikut menambah tekanan biaya produksi. Kenaikan harga ini pada akhirnya akan menurunkan daya beli masyarakat secara keseluruhan,” jelasnya.
Di sisi lain, ia juga menilai pelemahan rupiah dapat memberikan keuntungan bagi sektor eksportir karena produk Indonesia menjadi lebih kompetitif di pasar internasional, serta berpotensi meningkatkan penerimaan negara dari pajak ekspor dan memperkuat pasokan dolar domestik.
Selain itu, pelaku pasar masih terus mencermati arah kebijakan global yang dinilai akan sangat menentukan pergerakan rupiah ke depan.




:strip_icc()/kly-media-production/medias/5570752/original/012779400_1777539452-1.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/7660040/original/046727000_1780453477-1000775495.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/4033430/original/048968500_1653467636-20220525-FOTO---SUSU-SAPI-Herman-1.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/4568442/original/087912500_1694165419-20230908-Harga_Gabah-ANG_6.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/7598456/original/044037900_1780382033-1000336210.jpg)




:strip_icc()/kly-media-production/medias/7736658/original/066542700_1780542856-Screenshot_2026-06-04_101336.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/7737820/original/022534900_1780544171-WhatsApp_Image_2026-06-04_at_09.13.25_1_.jpeg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/3291093/original/097460500_1604903000-20201109-Donald-Trump-Kalah-Pilpres-AS_-Rupiah-Menguat-7.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/4805340/original/093907000_1713432001-20240418-Kenaikan_Harga_Emas-HER_2.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/4816483/original/040342400_1714383611-fotor-ai-20240429134010.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5028254/original/041675300_1732871304-fotor-ai-2024112916726.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/4983414/original/048746200_1730112225-fotor-ai-20241028174259.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/4796664/original/075845200_1712438897-a-perry-XGr8jarX0gY-unsplash.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5111034/original/031563900_1738033947-AP_Photo-Ben_Curtis.jpg)