Jakarta – Aliran dana remitansi yang dikirimkan Pekerja Migran Indonesia (PMI) mencatatkan nilai fantastis hingga menembus US$ 17,2 miliar atau sekitar Rp 288,1 triliun sepanjang tahun 2025. Kendati demikian, pemanfaatannya di dalam negeri dinilai masih didominasi oleh kebutuhan konsumtif harian.
Kondisi tersebut mendorong Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (KP2MI) memperkuat kajian komprehensif agar dana remitansi mampu memberikan dampak ekonomi yang berkelanjutan bagi pekerja migran maupun keluarganya di daerah asal.
BACA JUGA:P2MI Usul Anggaran Rp 3,9 Triliun, 85% Buat Perlindungan Pekerja Migran
BACA JUGA:Kumpulan Hoaks Bantuan Pekerja Migran Beredar di Media Sosial, Cek Faktanya
BACA JUGA:Cek Fakta: Hoaks Video Menteri P2MI Umumkan Dana Bantuan untuk Pekerja Migran
Merujuk data Bank Indonesia (BI), kendati tren aliran remitansi PMI terus merangkak naik, porsi pemanfaatan untuk kegiatan produktif terbilang masih terbatas. KP2MI menilai optimalisasi dana remitansi perlu diukur secara lebih mendalam dari sisi ketahanan ekonomi keluarga, investasi pendidikan, kesehatan, pembentukan aset, hingga pembukaan peluang usaha berbasis kewirausahaan.
Direktur Jenderal Pemberdayaan KP2MI, Muh. Fachri, menegaskan bahwa pemerintah berupaya menggeser paradigma remitansi agar dipandang sebagai modal pembangunan daerah.
Kita tidak ingin remitansi hanya dipandang sebagai aliran dana yang dikirim oleh pekerja migran, tetapi juga sebagai modal yang harus mampu menciptakan nilai tambah, memperkuat kemandirian ekonomi keluarga PMI, dan memberi kontribusi untuk pembangunan di desa dan daerah asalnya, ujar Fachri di Jakarta, Selasa (22/9/2026).
/2025/05/26/1577929556.jpg)
/2026/05/07/612874713.jpg)
/2026/05/31/1057979073.jpg)
/2026/06/01/2110586163.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5294924/original/059949500_1753424920-aditya-romansa-5zp0jym2w9M-unsplash.jpg)

:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9355206/original/085541500_1790082676-WhatsApp_Image_2026-09-22_at_17.31.04.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5205703/original/076674300_1746101655-20250501-DEmo_Buruh_Surabaya-AFP_2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9354438/original/007347500_1790051775-email-attachment_2026_09_22_immanuel-christian_lbea-cukai-tindak-impor-ilegal-beras-dan-garam-serta-balpres-senilai-rp27-miliar_IMG_7239.jpeg)




:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3324621/original/092329900_1608026628-20201215-Harga-emas-terus-turun-ANGGA-6.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4881567/original/061423100_1719967228-fotor-ai-2024070373734.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4943099/original/079227300_1726137608-20240912-Harga_Emas-ANg_1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4013693/original/013633000_1651632346-000_329D9VG.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4816483/original/040342400_1714383611-fotor-ai-20240429134010.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4816484/original/039630500_1714383627-fotor-ai-2024042913407.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4740419/original/047203600_1707701768-fotor-ai-202402128350.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9313336/original/086824700_1785634470-ChatGPT_Image_Aug_2__2026__08_33_41_AM.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4816479/original/001937700_1714383474-fotor-ai-2024042913365.jpg)