Jakarta – Pasar properti Indonesia diprediksi masih akan tumbuh di 2026. Meski harga emas terus melonjak, properti dinilai masih menjadi salah satu pilihan instrumen investasi masyarakat.
Co-Founder Linktown Winaldo mengatakan, jika melihat kondisi makroekonomi, termasuk melemahnya nilai tukar rupiah dan meningkatnya harga emas, pihaknya menilai properti masih tetap relevan sebagai instrumen investasi.
BACA JUGA:Manajemen JGC Tanggapi Aspirasi Warga: Percepat Revitalisasi Infrastruktur Kawasan
BACA JUGA:BTN Expo 2026 Resmi Ditutup, Ini Hasilnya
“Pasar properti Indonesia di 2026 masih menarik, namun lebih selektif dan dipengaruhi oleh biaya pendanaan serta permintaan riil. Investasi properti tetap layak, terutama untuk jangka panjang dan di lokasi yang tepat,” tuturnya, Minggu (1/2/2026).
Dari sisi prospek pasar properti 2026, Linktown menilai pertumbuhan masih terbuka, meski tidak merata di semua sektor. Beberapa segmen seperti industri dan logistik diproyeksikan memiliki momentum yang kuat, sementara sektor hunian, perkantoran, dan apartemen cenderung tumbuh lebih stabil dan moderat.
Ddalam menghadapi dinamika pasar, lanjut dia, Linktown mengandalkan strategi pemasaran digital-first yang berbasis kepercayaan (trust). “Strategi ini dijalankan dengan fokus pada solusi yang tepat sasaran, didukung oleh konten yang edukatif serta proses tindak lanjut (follow up) yang konsisten,” ungkapnya.
Pada 2026, Linktown akan menitikberatkan strategi pada efisiensi dan optimalisasi anggaran, serta melanjutkan sejumlah program penjualan yang terbukti efektif sepanjang 2025. “Dengan strategi tersebut, Linktown menargetkan nilai penjualan sebesar Rp 3,5 triliun pada 2026,” jelas Winaldo.
Melanjutkan ekspansi bisnis, imbuhnya, Linktown berencana meresmikan cabang Jawa Tengah setelah Lebaran 2026, yang mencakup wilayah Yogyakarta, Solo, dan Semarang (Joglosemar). “Meski peresmian fisik baru akan dilakukan tahun ini, namun aktivitas penjualan di wilayah tersebut telah berjalan,” kata Winaldo.
/2025/12/07/399938828.jpg)
/2025/03/14/208030179.jpg)
/2025/04/28/1077994607.jpg)
/2025/10/16/27400553.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/1043411/original/005540900_1446622303-20151104-OJK-AY-4.jpg)

:strip_icc()/kly-media-production/medias/5198172/original/061456600_1745500065-56e1a315-d25b-47fb-abe6-e936eafd527a.jpeg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5397188/original/078850600_1761803487-IMG-20251030-WA0006.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/3017478/original/046853000_1578564285-20200109-Waspadai-Gelombang-Tinggi-dan-Banjir-Rob-IMAM-5.jpg)




:strip_icc()/kly-media-production/medias/5461831/original/095838900_1767460415-Untitled.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/4282588/original/045207500_1672910856-Imbas_potensi_perlambatan_ekonomi_nilai_rupiah_melemah_terhadap_dollar-ANGGA_7.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5487936/original/087253300_1769684538-Konferensi_pers_OJK-BEI-29_Januari_2026c.jpeg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/4089307/original/075313700_1657837181-Harga_Emas_Hari_Ini.jpeg)