Jakarta – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan Indonesia kembali mencatatkan suprlus pada Desember 2025, yakni mencapai USD 2,51 miliar. Artinya, Indonesia mengalami surplus selama 68 bulan berturut-turut sejak Mei 2020.
Pada kondisi Desember 2025 neraca perdagangan barang mencapai surplus sebesar USD 2,51 miliar. neraca perdagangan Indonesia telah mencatat surplus selama 68 bulan berturut-turut sejak Mei 2020, kata Deputi Bidang Distribusi dan Jasa, Ateng Hartono, dalam konferensi pers BPS, Senin (2/2/2026).
BACA JUGA:Kemenkeu: Tekanan Inflasi Bersifat Sementara, Normal Kembali Maret 2026
BACA JUGA:Prediksi BPS Soal Inflasi Maret-April 2026 Setelah Januari Sentuh 3,5%
Ateng menjelaskan, khusus untuk surplus neraca perdagangan pada bulan Desember tahun 2025 terutama ditopang oleh surplus komoditi nonmigas sebesar USD 4,60 miliar.
Komoditas penyumbang suprlus di Desember 2025 yakni, lemak dan minyak hewan atau nabati (HS 15), juga bahan bakar mineral (HS 27), serta besi dan baja (HS 72).
Pada saat yang sama neraca perdagangan komoditas migas tercatat defisit sebesar USD 2,09 miliar, dengan komoditi penyumbang defisitnya minyak mentah dan hasil minyak.
Lebih lanjut, Ateng menyampaikan neraca perdagangan secara kumulatif dari Januari hingga Desember 2025 tercatat mengalami surplus sebesar USD 41,05 miliar.
Pada bulan Januari sampai Desember 2025, neraca perdagangan barang mencapai surplus sebesar USD 41,05 miliar, kata Ateng.
Perbandingan surplus Kumulatif
Adapun BPS membandingkan surplus antara Januari – Desember 2025 dengan Januari – 2024. Pada periode yang sama tahun 2024, surplus hanya tercatat USD 31,33 miliar, sedangkan pada Januari-Desember 2025 surplusnya mencapai USD 41,05 miliar.
Surplus sepanjang Januari-Desember 2025 tersebut terutama ditopang oleh surplus komoditi nonmigas sebsar USD 60,75 miliar. Sedangkan, surplus komoditi migas masih mengalami defisit USD 19,70 miliar, ujarnya.
/2025/12/07/399938828.jpg)
/2025/03/14/208030179.jpg)
/2025/04/28/1077994607.jpg)
/2025/10/16/27400553.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/1954437/original/003823600_1519994760-20180302-Dolar-AY1.jpg)



:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4931455/original/016012500_1724922483-IMG-20240829-WA0026.jpg)




:strip_icc()/kly-media-production/medias/5461831/original/095838900_1767460415-Untitled.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/4282588/original/045207500_1672910856-Imbas_potensi_perlambatan_ekonomi_nilai_rupiah_melemah_terhadap_dollar-ANGGA_7.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/3017478/original/046853000_1578564285-20200109-Waspadai-Gelombang-Tinggi-dan-Banjir-Rob-IMAM-5.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5487936/original/087253300_1769684538-Konferensi_pers_OJK-BEI-29_Januari_2026c.jpeg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/4089307/original/075313700_1657837181-Harga_Emas_Hari_Ini.jpeg)