Jakarta – Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman mengungkap dugaan praktik keuntungan fantastis yang mencapai Rp 2 triliun per bulan oleh satu grup perusahaan penggilingan beras. Sayangnya, keuntungan tersebut diperoleh melalui praktik yang merugikan masyarakat dan mengabaikan hak-hak konsumen.
Temuan tersebut merupakan hasil analisis mendalam terhadap tata niaga beras nasional yang dirangkum dalam kajian bertajuk Darurat Mafia Beras.
BACA JUGA:Ulah Penggilingan Padi Nakal, Beras Harga Rp 8.000 Dijual Rp 17.000
BACA JUGA:Mentan Pastikan Stok Beras Aman Hadapi El Nino Godzilla hingga 2027
BACA JUGA:Bulog Sudah Serap 3,5 Juta Ton Beras Petani
Berdasarkan hasil analisis itu, pemerintah memperkirakan kerugian akibat peredaran beras premium yang tidak memenuhi standar mutu mencapai Rp 98 triliun.
Selain itu, konsumen juga berpotensi mengalami kerugian hingga Rp 71,9 triliun per tahun akibat beredarnya beras fortifikasi yang tidak memenuhi persyaratan. Angka triliunan rupiah ini bukan keuntungan bisnis yang wajar. Ini merampas hak rakyat, ujar dia melansir Antara, Kamis (30/7/2026).
Ia menyebutkan anggaran ketahanan pangan tahun 2025 tercatat Rp 144,6 triliun, disalurkan melalui kementerian dan lembaga sebesar Rp 59,42 triliun, Badan Usaha Milik Negara Rp 63 triliun, Transfer ke Daerah Rp 22,17 triliun, dan pembiayaan Rp 0,05 triliun.
Dari subsidi tersebut, lanjut Amran, produksi padi nasional bernilai Rp 537 triliun dengan produksi beras 34,69 juta ton, mengacu Harga Eceran Tertinggi (HET) Rp13,5 juta per ton dan rata-rata harga versi Kementerian Perdagangan Rp 15,5 juta per ton.
Namun distribusi keuntungannya timpang. Petani hanya menerima pendapatan rumah tangga sebesar Rp 1,87 juta dari alokasi Rp 215 triliun, jelasnya.
Pengusaha penggilingan atau RMU justru menerima porsi terbesar sebesar Rp 259 triliun, dengan temuan spesifik satu grup perusahaan meraup keuntungan tidak wajar hingga Rp 2 triliun per bulan dari praktik penipuan mutu.



/2026/04/06/64963745.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9295142/original/069729000_1783915656-mbg8.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1689478/original/047714100_1503553089-dpr6.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4539940/original/075754200_1692167792-20230816-Jokowi-Sampaikan-Pidato-Sidang-Tahunan-Faizal-1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4918526/original/006206100_1723675086-Pertamina.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9305961/original/021053100_1784813706-Foto_Ilustrasi_-_Gedung_IFG__Dok._IFG_.jpeg)




:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4013697/original/070218700_1651632437-000_329D9UW.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5382999/original/069219700_1760612391-3.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4805343/original/080058200_1713432003-20240418-Kenaikan_Harga_Emas-HER_5.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3271752/original/024896400_1603102550-20201019-Harga-Emas-Hari-Ini-Stabil-2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3932277/original/005220300_1644714392-13_februari_2022-1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9306954/original/097594000_1784943789-ChatGPT_Image_Jul_16__2026__07_22_35_AM.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4333284/original/025003700_1677053916-Pajak_2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4965038/original/026893400_1728530562-000_329D4LB.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9309010/original/038477600_1785214604-ChatGPT_Image_Jul_28__2026__11_55_54_AM.jpg)