Jakarta – Sejumlah kapal komersial diperkirakan masih akan melintasi Selat Hormuz meski serangan terhadap kapal berbendera Singapura meningkatkan risiko pelayaran.
Permintaan energi dari Timur Tengah dan peluang keuntungan dari pengangkutan minyak membuat sebagian operator tetap berlayar, sementara perusahaan pelayaran kontainer besar cenderung menghindari jalur tersebut.
BACA JUGA:Unggahan Medsos Berujung Vonis Mati bagi Mahasiswi Iran
BACA JUGA:Harga Minyak Dunia Tembus US$ 110, Selat Hormuz Memanas
BACA JUGA:Intip Kekuatan MOAB, Bom Raksasa AS untuk Gempur Iran
BACA JUGA:AS Siapkan Bom Raksasa Gempur Fasilitas Nuklir Iran
Dua kapal kontainer terdaftar di Singapura, GFS Pride dan GFS Giselle, diserang pekan ini. GFS Pride tenggelam setelah terkena proyektil dan terbakar, sedangkan GFS Giselle mengalami kerusakan. Awak kedua kapal dilaporkan selamat.
Collin Koh, peneliti senior di S. Rajaratnam School of International Studies, Singapura, mengatakan perusahaan pelayaran masih mungkin mencari peluang untuk melewati selat tersebut.
“Saya tidak melihat dalam jangka pendek bahwa kapal berbendera Singapura atau perusahaan pelayaran Singapura akan serta-merta menghindari pelintasan jika ada peluang,” kata Koh kepada CNBC, dikutip Sabtu (17/10/2026).
Data perusahaan analisis maritim Kpler menunjukkan jumlah pelintasan Selat Hormuz turun menjadi 131 pada pekan yang berakhir 14 Oktober, dari 176 pada pekan sebelumnya. Penurunan itu, bagaimanapun, tidak dapat dikaitkan sepenuhnya dengan serangan terbaru.
Dimitris Ampatzidis dari Kpler menilai serangan tersebut menunjukkan Iran masih memiliki kemampuan untuk mengancam kapal komersial, bukan hanya pengangkutan minyak dan gas.
/2026/08/03/1887649803.jpg)
/2023/04/27/1632366693.jpg)
/2026/02/18/1346664671.jpg)
/2026/08/28/1217435868.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5543929/original/014371000_1775039700-foto_4.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5196560/original/068216900_1745413932-20250423-Perkotaan-ANG_7.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9375537/original/049333800_1792153756-Citi_Logo_Ambiance.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4725790/original/071920300_1706152136-publikasi_1706110433_65b12de1af2b3.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9306955/original/077151200_1784943871-Gemini_Generated_Image_5q73a05q73a05q73.jpg)




:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5472770/original/094808400_1768375318-5.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3352147/original/086289000_1610959706-20210118-Emas-Antam-1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3975039/original/078300400_1648205647-20220325-Harga-emas-pegadaian-naik-ANGGA-4.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3532281/original/068580000_1628161372-20210805-Harga-emas-alami-penurunan-ANGGA-2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/2358749/original/070880200_1536904477-afpprison.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4876282/original/004384100_1719462261-fotor-ai-2024062711133.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5302021/original/032085300_1753969488-Gemini_Generated_Image_jtk1w2jtk1w2jtk1.jpg)
:strip_icc():format(webp):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/liputan6/watermark-gray-landscape-new.png,45,645,0)/kly-media-production/medias/4856444/original/021606300_1717750001-20240512_102627.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4594243/original/089058400_1696137886-andre-francois-mckenzie-iGYiBhdNTpE-unsplash.jpg)