Jakarta – Bea Cukai Tanjung Priok mengungkap identitas tiga perusahaan importir yang terlibat dalam pemasukan lima unit sepeda motor Harley-Davidson bekas dalam kondisi terurai (completely knocked down/CKD) dan 20 rangka (frame) bekas asal China. Meski demikian, hingga kini kasus tersebut masih ditangani pada tahap pelanggaran administrasi sehingga belum ada pihak yang ditetapkan sebagai tersangka.
Kepala KPU Bea dan Cukai Tipe A Tanjung Priok, Adang Nugroho Adi, mengatakan barang-barang tersebut masuk melalui Terminal JICT, Pelabuhan Tanjung Priok, dalam beberapa kali pengiriman sejak akhir Desember 2025 hingga Juli 2026.
BACA JUGA:Kasus Impor Harley-Davidson Bekas dari China Belum Diseret ke Pidana, Ini Alasannya
BACA JUGA:Impor Harley-Davidson Ilegal Terungkap, Kerugian Negara Dihitung
BACA JUGA:Fakta dan Kronologi Terungkapnya Kontainer Harley-Davidson Bekas Ilegal di Tanjung Priok
“Dari hasil penelitian, importasinya dilakukan oleh tiga perusahaan, yaitu PT PAS untuk dua unit Harley-Davidson bekas, PT TSS untuk tiga unit Harley-Davidson bekas, dan PT HPM untuk 20 unit rangka sepeda motor Harley-Davidson bekas,” ujar Adang di Tempat Penimbunan Pabean (TPP) PT Tri Pandu Pelita, Tanjung Priok, Jakarta Utara, Rabu (5/8/2026).
Menurut Adang, ketiga perusahaan tersebut memberitahukan barang impor sebagai part atau suku cadang sepeda motor. Namun, setelah dilakukan pemeriksaan fisik berdasarkan hasil analisis intelijen dan pemindaian X-Ray, petugas menemukan isi peti kemas tidak sesuai dengan dokumen impor.
“Yang diberitahukan part, tetapi kedapatannya CKD terurai. Tidak sinkron antara pemberitahuan dengan fisik barang,” katanya.
Ia menambahkan, meski bea masuk dan pajak impor telah dibayarkan sesuai pemberitahuan barang sebagai part, tindakan tersebut tetap melanggar Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 24 Tahun 2025 karena kendaraan bermotor bekas dilarang diimpor ke Indonesia.



/2026/02/18/395790444.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9315873/original/091438000_1785900384-IMG_6261.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9315064/original/025010300_1785825907-WhatsApp_Image_2026-08-04_at_09.49.30.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3510059/original/027658500_1626233971-fintech_3.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4361081/original/023728500_1678967433-Angka_Kemiskinan_Meningkat-IQBAL_7.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3337097/original/098406000_1609328704-20201230-Rupiah-Ditutup-Menguat-6.jpg)




:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3532284/original/011004900_1628161432-20210805-Harga-emas-alami-penurunan-ANGGA-3.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3172729/original/052282800_1594117386-20200707-Harga-Emas-Pegadaian-Naik-Rp-4.000-4.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4881569/original/094570800_1719967258-fotor-ai-2024070373820.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5472769/original/036658900_1768375317-4.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5028254/original/041675300_1732871304-fotor-ai-2024112916726.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4740419/original/047203600_1707701768-fotor-ai-202402128350.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5028256/original/032953400_1732871460-fotor-ai-20241129161044.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5028255/original/089063500_1732871319-fotor-ai-2024112916722.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4816479/original/001937700_1714383474-fotor-ai-2024042913365.jpg)