Jakarta – Industri petrokimia nasional masih menghadapi ketergantungan terhadap bahan baku impor sehingga penguatan kapasitas produksi dalam negeri menjadi pekerjaan penting bagi pemerintah dan pelaku industri.
Peneliti Center of Industry, Trade and Investment (CITI) INDEF Ahmad Heri Firdaus mengatakan, sejumlah bahan baku seperti nafta masih harus didatangkan dari luar negeri dalam jangka pendek.
BACA JUGA:Ratusan Karung Bawang Impor Ilegal Masuk Lewat Natuna
BACA JUGA:PLTS 100 GW Hemat APBN, Impor Solar Bakal Ditekan
Untuk jangka pendek masih belum memungkinkan. Seperti nafta, itu sudah ada roadmap-nya sampai kita bisa memenuhi kebutuhan bahan baku sendiri, cuma perlu investasi yang lebih besar lagi, kata Heri kepada wartawan, Jumat (28/8/2026).
Heri mengatakan, pemerintah dan industri perlu meningkatkan kapasitas produksi domestik agar industri petrokimia tidak terlalu rentan terhadap gejolak harga komoditas global.
Menurut Heri, strategi substitusi impor juga harus mempertahankan efisiensi rantai pasok karena perubahan sumber bahan baku dapat meningkatkan biaya distribusi bagi industri pengguna.
Strategi substitusi impornya harus bisa berjalan smooth tanpa mengganggu rantai pasok yang efisien,” ujarnya.
Heri menilai investasi sektor petrokimia memiliki prospek besar karena pasar domestik memiliki kebutuhan produk turunan yang luas. Namun, investasi tersebut membutuhkan dukungan sektor hulu, infrastruktur, tenaga kerja, dan pasokan energi.
Investasi di sektor petrokimia meningkat cukup besar, tetapi investasi itu harus diiringi dengan peningkatan kapasitas produksi,” kata Heri.
Heri menambahkan, penguatan industri petrokimia juga membutuhkan investasi di sektor hulu untuk meningkatkan pasokan minyak dan gas bagi kebutuhan industri non-energi.

/2026/05/08/365732371.jpg)
/2023/08/25/562301300.jpg)
/2024/07/31/1713116901.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9335166/original/096373800_1787914373-email-attachment_2026_08_28_pramita-tristiawati_sama-seperti-di-sumatera-ntt-juga-akan-dibuatkan-huntap-oleh-kementerian-perumahan-dan-kawasan-permukiman_20260828_162814.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4881569/original/094570800_1719967258-fotor-ai-2024070373820.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9335661/original/069718800_1788014395-e0a57acc-d512-41bf-88d9-b9a8b50847e8.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9336058/original/078757900_1788099807-c8aa79cc-f278-4edd-bf0c-ab5f1bf8ebbc.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9336394/original/078782800_1788159760-3608754e-d6ef-45b9-bd54-e934752df7dd.jpeg)




:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5472770/original/094808400_1768375318-5.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3192686/original/018507100_1595929321-20200728-Harga-Emas-Tembus-Rp-1-Juta-per-Gram-1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3172726/original/046657700_1594117380-20200707-Harga-Emas-Pegadaian-Naik-Rp-4.000-1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3149803/original/032801800_1591853666-20200611-Harga-Emas-Antam-Naik-ANGGA-5.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5028259/original/049109300_1732871661-fotor-ai-2024112916147.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4740419/original/047203600_1707701768-fotor-ai-202402128350.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5028260/original/094937500_1732871703-fotor-ai-2024112916143.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4816484/original/039630500_1714383627-fotor-ai-2024042913407.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4816486/original/000456500_1714383664-fotor-ai-20240429133814.jpg)