Jakarta – Peringatan Hari Ekonomi Kreatif Nasional (Hekrafnas) 2026 menjadi momentum untuk memperkuat ekosistem ekonomi kreatif Indonesia, mulai dari akses pembiayaan dan perlindungan kekayaan intelektual hingga membuka peluang produk lokal menembus pasar internasional.
Direktur Utama PT Produksi Film Negara (PFN) Riefian Fajarsyah menilai, Indonesia memiliki banyak ide dan talenta kreatif. Tantangan berikutnya adalah memastikan karya tersebut semakin dikenal, dipercaya pasar, dan berkembang menjadi usaha yang berkelanjutan.
BACA JUGA:Hari Ekonomi Kreatif Nasional 2026 Serentak Digelar di 7 Provinsi dan 17 Negara
BACA JUGA:Puteri Indonesia Ajak Publik Figur Promosikan Produk Ekonomi Kreatif
BACA JUGA:Dari Jakarta untuk Dunia: WCCE 2026 Siap Ubah Kreativitas Jadi Mesin Ekonomi Global
“Bangsa kita itu tidak pernah kekurangan ide maupun talenta. Tapi memang pertanyaannya adalah bagaimana membuat karya-karya tersebut lebih dikenal, dipercaya pasar, dan juga berkembang menjadi usaha yang berkelanjutan,” ujar Riefian dalam sambutannya pada Hekrafnas 2026, Senin, (19/10/2026).
Menurut dia, kekayaan budaya Indonesia dapat dikembangkan menjadi berbagai produk bernilai ekonomi. Cerita rakyat, misalnya, bisa diadaptasi menjadi film, animasi, atau gim. Sementara motif tradisional dan kuliner daerah dapat dikembangkan menjadi produk yang menjangkau pasar lebih luas.
Namun, potensi tersebut membutuhkan dukungan ekosistem yang memadai, termasuk pembiayaan, perlindungan kekayaan intelektual, peningkatan kapasitas pelaku usaha, distribusi, dan pemasaran.
Riefian juga menyoroti pentingnya peran media dan platform digital untuk memperkenalkan karya kreatif dari berbagai daerah kepada khalayak yang lebih luas. Menurut dia, perhatian publik seharusnya tidak berhenti pada popularitas, tetapi dapat berkembang menjadi apresiasi, kepercayaan, dan peluang ekonomi.
Tujuannya bukan hanya viral, tapi kita ingin perhatian ini semua berubah menjadi apresiasi. Apresiasi berubah menjadi kepercayaan, kepercayaan berubah menjadi peluang ekonomi,” katanya.
/2026/08/03/1887649803.jpg)
/2023/04/27/1632366693.jpg)
/2026/02/18/1346664671.jpg)
/2026/08/28/1217435868.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5579576/original/026720500_1778057267-4.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9375537/original/049333800_1792153756-Citi_Logo_Ambiance.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9355223/original/047451100_1790085132-1000450937.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3518881/original/000279300_1627027346-karbon_un.jpg)




:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5472770/original/094808400_1768375318-5.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3352147/original/086289000_1610959706-20210118-Emas-Antam-1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3975039/original/078300400_1648205647-20220325-Harga-emas-pegadaian-naik-ANGGA-4.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3532281/original/068580000_1628161372-20210805-Harga-emas-alami-penurunan-ANGGA-2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/2358749/original/070880200_1536904477-afpprison.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4876282/original/004384100_1719462261-fotor-ai-2024062711133.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5302021/original/032085300_1753969488-Gemini_Generated_Image_jtk1w2jtk1w2jtk1.jpg)
:strip_icc():format(webp):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/liputan6/watermark-gray-landscape-new.png,45,645,0)/kly-media-production/medias/4856444/original/021606300_1717750001-20240512_102627.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4594243/original/089058400_1696137886-andre-francois-mckenzie-iGYiBhdNTpE-unsplash.jpg)