Jakarta – Utusan Khusus Presiden Bidang Iklim dan Energi, Hashim Djojohadikusumo mengatakan semakin banyak petani yang memilih menanam padi dibandingkan sawit. Faktor keuntungan disebut menjadi salah satu pertimbangannya.
Hashim mengaku mendapat kabar mengenai pilihan petani tersebut dari sejumlah kepala daerah. Meski tidak merinci daerahnya, dia menyebut pertimbangan ekonomi, termasuk pendapatan dari padi, menjadi pendorong utama.
BACA JUGA:Petani dan Nelayan Bakal Ikut Menikmati Pembiayaan Karbon
BACA JUGA:Soroti Mafia Beras, Amran: Sudah Rugikan 115 Juta Petani
BACA JUGA:Ancam Nasib Petani, 397 Ton Beras Impor Ilegal Puluhan Miliar Disita Bea Cukai
BACA JUGA:Terkuak, Segini Modal Bangun Pabrik Mini Sawit Berkapasitas 10 Ton TBS per Jam
Saya dengar dari beberapa gubernur, petani mereka lebih senang tanam padi, gabah, daripada sawit karena lebih cepat menghasilkan dan cash economy, kata Hashim di Hotel Raffles, Jakarta, dikutip Kamis (8/10/2026).
Adik kandung Presiden Prabowo Subianto ini menguraikan perhitungan keuntungan yang didapat petani. Pertama, pemerintah menetapkan harga beli gabah kering panen (GKP) menjadi Rp 6.500 per kilogram (kg). Angka ini menjadi harga minimal dalam menyerap hasil panen petani.
Harga yang kita bayar ke petani, petani beras, petani sawah, dinaikkan 50%. Ini sebetulnya market measures. Kita berikan insentif, rangsangan kepada petani, tambah 50% harganya, urai dia.
Kedua, biaya produksi untuk menanam padi menjadi lebih rendah. Pasalnya, kebijakan pemerintah mampu menurunkan harga pupuk bersubsidi sebesar 20%.
Harga pupuk, urea, dipotong, dipangkas 20%. The cost of production turun, antara lain karena pupuk urea turun 20%, dan harga pengadaan dari pemerintah naik. Maka sukses, petani-petani sekarang lebih tertarik, beber dia.
/2023/10/01/342276568.jpg)
/2024/01/17/2061950103.jpg)
/2026/05/21/1931422383.jpg)
/2020/02/14/1217679269.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9368356/original/068430500_1791430247-email-attachment_2026_10_08_adyanugrahadi_tarif-ojol-masuk-perpres-menhub-tegaskan-biaya-platform-8-persen_IMG_7262.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3284618/original/004329100_1604313218-20201102-Hari-ini-Rupiah-Ditutup-melemah-atas-dolar-ANGGA-4.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9368404/original/053332500_1791433059-email-attachment_2026_10_08_ariefhakim-at-klyid_menkeu-suahasil-fiskal-dan-danantara-saudara-kembar_1000466331.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4659718/original/012191600_1700712502-kanchanara-3ESepqQ5Yf0-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9296727/original/008242400_1784022507-3fa60472-8dcd-43de-8f2d-dc9c188e0f52.jpeg)




:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9349515/original/027309100_1789531590-Gemini_Generated_Image_eq0tzleq0tzleq0t.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3192692/original/073777800_1595929324-20200728-Harga-Emas-Tembus-Rp-1-Juta-per-Gram-7.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3352147/original/086289000_1610959706-20210118-Emas-Antam-1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5219629/original/039640900_1747221144-20250514-Harga_Emas-ANG_1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5028259/original/049109300_1732871661-fotor-ai-2024112916147.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9306954/original/097594000_1784943789-ChatGPT_Image_Jul_16__2026__07_22_35_AM.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4816485/original/067351800_1714383642-fotor-ai-20240429133817.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4876282/original/004384100_1719462261-fotor-ai-2024062711133.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3913280/original/009736000_1643034734-24_januari_2022-4.jpg)