Jakarta – Nilai tukar rupiah kembali melemah pada perdagangan Kamis pagi. Mengutip data Trading Economics, hingga pukul 10.40 nilai tukar rupiah tercatat Rp 17.295 per dolar AS. Rupiah sempat menembus level Rp 17.300 per dolar AS pada Kamis pukul 09.00.
Pengamat ekonomi, mata uang, dan komoditas Ibrahim Assuaibi, menilai lonjakan harga minyak dunia menjadi salah satu pemicu utama tekanan terhadap nilai tukar rupiah yang kini telah menembus level Rp 17.300 per dolar AS.
BACA JUGA:Nilai Tukar Rupiah Melemah ke Rp 17.287, Harga Minyak Jadi Pemicu
BACA JUGA:Tembus Rp 17.300 per Dolar AS, Rupiah Terpukul Gejolak Global dan Capital Outflows
BACA JUGA:Rupiah Tembus Rp 17.300, Ini Respons BI
Kenaikan harga energi global ini tidak hanya berdampak pada sektor energi, tetapi juga merembet ke kondisi fiskal dan stabilitas nilai tukar.
Di tengah harga minyak yang terus merangkak naik, beban Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) semakin tertekan. Kondisi ini menciptakan efek domino yang pada akhirnya memperlemah rupiah lebih cepat dari perkiraan.
Ia menjelaskan bahwa harga minyak mentah dunia saat ini sudah jauh melampaui asumsi dasar APBN 2026. Harga Brent crude oil tercatat menyentuh USD 103 per barel, sementara WTI berada di level USD 98 per barel.
“Nah dari segi internal sendiri dengan kenaikan harga minyak Brent crude oil saat ini sudah di USD 103, kemudian WTI crude oil itu di USD 98 per barrel ini membuat anggaran, defisit anggaran Indonesia kemungkinan besar akan kembali melebar,” kata Ibrahim kepada Kamis (23/4/2026).
Padahal, dalam APBN 2026, pemerintah menetapkan asumsi harga minyak di kisaran USD 70 per barel dengan batas atas hanya USD 92. Artinya, realisasi harga saat ini sudah menembus batas maksimal yang telah ditetapkan.
“Kita tahu bahwa di APBN tahun 2026 harga minyak itu dipatok di USD 70 per barel. Batas akhir ya batas maksimal itu adalah USD 92. Artinya, saat ini sudah di atas USD 92 per barrel ini membuat rupiah ini mengalami kelemahan yang cukup signifikan,” ujarnya.


/2026/02/21/1358728669.jpg)
/2025/03/06/38420056.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5500485/original/038436600_1770867612-Menko_Bidang_Perekonomian_Airlangga_Hartarto-12_Februari_2026.jpeg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5562718/original/076507100_1776838015-Chairman_B57__Asia_Pasifik_Arsjad_Rasjid-22_April_2026c.jpeg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/976570/original/042706700_1441279137-harga-emas-2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1601200/original/046758400_1495427422-Fintech.jpg)
/2025/05/14/252621507.jpg)




:strip_icc()/kly-media-production/medias/1400471/original/026176400_1478686859-20161109--Donald-Trump-Unggul-Rupiah-Terpuruk-Jakarta-Angga-Yuniar-01.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5564221/original/031578300_1776930460-WhatsApp_Image_2026-04-23_at_12.16.10__1_.jpeg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/4723188/original/034031500_1705921925-fotor-ai-20240122181144.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/4805340/original/093907000_1713432001-20240418-Kenaikan_Harga_Emas-HER_2.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/3532284/original/011004900_1628161432-20210805-Harga-emas-alami-penurunan-ANGGA-3.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/976573/original/043185800_1441279137-harga-emas-5.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/1095898/original/089936600_1451317331-Gedung-PPATK-2.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/4172125/original/088962000_1664246266-pupuk_bersubsidi.jpeg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5527489/original/089112300_1773204270-Kepala_Staf_Kepresidenan__Muhammad_Qodari-11_Maret_2026a.jpg)