Jakarta – Pemerintah Indonesia dinilai perlu memperkuat langkah diplomasi global guna meminimalkan dampak kebijakan European Union Deforestation Regulation (EUDR) terhadap kinerja ekspor nasional.
Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Mohammad Faisal menyatakan pemerintah Indonesia harus memastikan bahwa kepentingan ekspor nasional tetap terlindungi dari tekanan EUDR melalui pendekatan diplomasi yang terukur.
BACA JUGA:Pulau Kharg Bernilai Penting Bagi AS dan Iran, Ternyata Ini Alasannya
BACA JUGA:Tolak Tarif Pungutan Ekspor CPO Naik Jadi 12,5%, Petani Sawit Minta Ini ke Purbaya
BACA JUGA:Indonesia dan Singapura Percepat Ekspor Listrik Bersih
Kebijakan EUDR, merupakan bentuk hambatan non-tarif bagi komoditas perkebunan untuk masuk ke pasar Uni Eropa Dalam konteks pasar minyak nabati dunia, EUDR hanya diberlakukan pada minyak sawit dan minyak kedelai.
Namun demikian, tambahnya EUDR tidak berlaku untuk minyak rapeseed dan minyak bunga matahari maupun minyak nabati lain yang dihasilkan oleh Uni Eropa.
Diskriminasi tersebut dapat dinilai sebagai alat Uni Eropa untuk menguasai atau mengeksploitasi produsen minyak sawit seperti Indonesia.
Pemerintah Indonesia perlu mengusahakan agar pemberlakuan EUDR ini memiliki dampak minimum terhadap ekspor kita, katanya, dikutip dari Antara, Jumat (20
Dia menegaskan jika tidak disikapi dengan baik, hambatan non-tarif akan memberi dampak negatif kepada kinerja ekspor nasional hingga terganggunya pendapatan ekspor yang mendukung berbagai program Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP).
Menurut Faisal, momentum perundingan Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (IEU-CEPA) bisa dioptimalkan untuk menjembatani kepentingan eksportir Indonesia, termasuk memastikan kesiapan sektor hulu seperti perkebunan dan pertanian dalam memenuhi standar EUDR.
Ditambahkannya, salah satu tantangan utama dalam implementasi EUDR adalah aspek traceability atau ketertelusuran rantai pasok. Untuk memenuhi persyaratan tersebut, diperlukan dukungan teknis dari Uni Eropa sebagai mitra dagang.
/2025/08/04/2059509624.jpg)
/2026/01/18/1891485649.jpg)
/2025/01/01/314892037.jpg)
/2022/08/04/2004827106.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/4215797/original/099989400_1667644463-Sistem_Bayar_Tol_Nirsentuh_Dimulai_Desember_2022-Faizal-4.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/1369940/original/015660100_1476098427-20161010-Harga-emas-stagnan-di-posisi-Rp-599-Jakarta-AY3.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4484273/original/072858000_1687927134-Kehidupan_di_Ibu_Kota_Rusia_Kembali_Normal_Setelah_Kudeta_Gagal_Tentara_Bayarannya-AP__5_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3172726/original/046657700_1594117380-20200707-Harga-Emas-Pegadaian-Naik-Rp-4.000-1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4946745/original/070587600_1726638796-9869342a-c57a-423d-9c65-10b442bfd9d5.jpg)




:strip_icc()/kly-media-production/medias/1738534/original/068857100_1507883251-Aluminium5.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/4826292/original/095830100_1715176226-fotor-ai-20240508204955.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/2836176/original/077516600_1561369125-20190624-Emas-Antam-6.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5534559/original/057490500_1773837252-1cf20d5f-2b83-44b4-ba72-412949427e42.jpeg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5534544/original/075277300_1773836617-AirNav_Indonesia-18_Maret_2026.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5534564/original/007430600_1773838221-WhatsApp_Image_2026-03-18_at_18.09.27.jpeg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/4797068/original/007275100_1712476132-20240407-Pemudik_Bermotor-HER_4.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/3280893/original/087094900_1603879302-20201028-Bandara-Soetta-3.jpg)