Jakarta – PT Pupuk Indonesia (Persero) memastikanĀ ekspor pupuk ke Australia serta rencana pengiriman ke sejumlah negara lain, tidak akan mengganggu pasokan bagi petani dalam negeri.Ā BUMN tersebut pun menjaminĀ kebutuhan domestik tetap menjadi prioritas utama.
Direktur Utama PT Pupuk Indonesia Rahmad Pribadi mengatakan ekspor dilakukan setelah kebutuhan pupuk nasional terpenuhi sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto.
BACA JUGA:Baja Indonesia Menembus Pasar Ekspor Amerika hingga Eropa
BACA JUGA:Prabowo: Indonesia Siap Buka Ekspor Bahan Pangan, Asal Petani Tak Rugi
BACA JUGA:Kemenperin: Tak Ada Relokasi dan PHK di Pabrik Otomotif Jawa Timur
Prinsipnya adalah penuhi kebutuhan dalam negeri terlebih dahulu. Untuk ekspor karena desainnya industri kita untuk ekspor dan arahan dari Bapak Presiden adalah kalau gudang-gudang kita penuh dengan pupuk, maka kita tidak boleh membiarkan sahabat-sahabat Indonesia kekurangan dengan pupuk, kata Rahmad dikutip dari Antara, Rabu (24/6/2026).
Rahmad menjelaskan Indonesia memiliki kapasitas produksi yang melebihi kebutuhan domestik. Kondisi tersebut membuat industri pupuk nasional memiliki surplus struktural, sehingga sebagian produksi memang dirancang untuk pasar ekspor.
Menurut dia, ekspor dilakukan dengan memanfaatkan surplus produksi 2026, sehingga tidak mempengaruhi kebutuhan urea dalam negeri. Indonesia memiliki kapasitas produksi pupuk yang lebih besar dibandingkan kebutuhan nasional, sehingga sebagian produksi memang dirancang untuk pasar ekspor.
Berdasarkan data Pupuk Indonesia, potensi ekspor urea dari Pupuk Indonesia Holding Company (PIHC) sebesar 1,5 juta ton pada 2026, namun dengan komitmen utama tetap pada kebutuhan dalam negeri. Adapun kebutuhan urea nasional ditaksir mencapai 6,3 juta ton per tahun. ada 2026, sementara target produksi urea Pupuk Indonesia mencapai 7,8 juta ton.
Kita memiliki kapasitas yang memang lebih besar dari kebutuhan petani kita. Surplus ini bukan karena krisis, kemudian kita ekspor. Tetapi desain struktural industri pupuk di Indonesia adalah sebagian eksporĀ oriented, ujarnya.



/2026/03/17/1361567992.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3617284/original/010929700_1635503741-20211029-Neraca-perdagangan-RI-alamai-surplus-ANGGA-1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8263270/original/011050800_1781874244-1000353365.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/2921616/original/011797600_1569399780-20190925-Buruh-NKRI-4.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8318107/original/002868700_1782186014-IMG_4971.jpeg)




:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4013693/original/013633000_1651632346-000_329D9VG.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/2375572/original/090361500_1538739773-20181005-Emas-Antam-3.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3975040/original/077790600_1648205648-20220325-Harga-emas-pegadaian-naik-ANGGA-5.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5472770/original/094808400_1768375318-5.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4816486/original/000456500_1714383664-fotor-ai-20240429133814.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4740422/original/078699100_1707701814-fotor-ai-2024021283356.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4816484/original/039630500_1714383627-fotor-ai-2024042913407.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4816482/original/062767500_1714383557-fotor-ai-20240429133654.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4816480/original/079795300_1714383491-fotor-ai-2024042913369.jpg)