Jakarta – Ekonom Universitas Paramadina, Wijayanto Samirin, memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia akan cenderung melambat setelah Lebaran 2026, seiring berakhirnya dorongan konsumsi musiman yang biasanya menjadi penopang utama aktivitas ekonomi.
Dia menuturkan, kontribusi Lebaran tahun ini terhadap pertumbuhan ekonomi lebih banyak terserap pada kuartal I 2026, sehingga efek lanjutannya ke kuartal II relatif terbatas. Hal ini membuat ruang ekspansi ekonomi pada periode berikutnya menjadi lebih sempit.
BACA JUGA:PSSI Harapkan Dukungan Suporter di FIFA Series 2026 Meski Masih Suasana Lebaran
BACA JUGA:Libur Lebaran Selesai lalu Muncul Perasaan Hampa dan Cemas, Kenali Post-Holiday Blues
BACA JUGA:6 Contoh Teks MC Syawalan, Cocok untuk Acara Formal dan Non Formal
BACA JUGA:THR Anak Dibelikan Apa agar Tidak Habis Percuma? Ini Jawabannya
“Dampak Lebaran tahun ini, hampir 100% dicapture di Q1 2026. Sebagian dampak ikutan akan dirasakan pada Q2 2026, tetapi nilainya tidak akan besar, ini lebih didominasi belanja oleh masyarakat daerah yang menerima dana dari para pemudik,” ujarnya kepada www.wmhg.org, Kamis (26/3/2026).
Ia menjelaskan, meskipun aliran dana dari pemudik tetap memberikan dorongan bagi ekonomi daerah, dampak tersebut tidak cukup kuat untuk menjaga momentum pertumbuhan secara nasional. Terlebih, pola konsumsi masyarakat saat ini dinilai lebih berhati-hati, sehingga efek pengganda dari belanja Lebaran tidak sebesar tahun-tahun sebelumnya.
Wijayanto menilai, memasuki kuartal II hingga IV 2026, perekonomian akan dihadapkan pada sejumlah tekanan yang berpotensi menahan laju pertumbuhan. Berakhirnya momentum Lebaran dan Natal-Tahun Baru (nataru) menjadi salah satu faktor utama yang menyebabkan perlambatan konsumsi domestik.
“Ini adalah faktor yang akan terjadi. Q2-4, ekonomi akan tumbuh secara lebih moderat, akibat: (1) efek Lebaran dan nataru berakhir, (2) potensi El-Nino yang menekan produktivitas pertanian sehingga daya beli petani dan inflasi meningkat, (3) kenaikan harga BBM, dan (4) imported inflation, akibat nilai tukar Rp yang terus tergerus,” jelasnya.
/2026/01/07/1592014958.jpg)
/2025/08/03/1834853401.jpg)
/2026/01/04/2120249703.jpg)
/2026/02/03/1693365585.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5495597/original/056933700_1770378064-IMG-20260206-WA0012.jpg)
/2026/01/27/1113077993.jpg)
/2026/01/29/1314029351.jpg)
/2025/09/02/1934936574.jpg)
/2025/06/30/781457054.jpg)




:strip_icc()/kly-media-production/medias/682959/original/ilustrasi-bank-1-140527-andri.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5539209/original/082047000_1774593652-2a129685-2a4e-4829-b883-9b0bd8c1346c.jpeg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/4723188/original/034031500_1705921925-fotor-ai-20240122181144.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/3609090/original/074413400_1634813435-20211021-Ekspor-Batu-Bara-1.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/4266421/original/073275700_1671506038-20221220-Libur-Natal-Tahun-Baru-AS-AP-1.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5537328/original/020344900_1774420051-Pantauan_di_Pelabuhan_Ketapang_Banyuwangi.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5538653/original/023976400_1774543468-1000272858.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5182570/original/011871300_1744095806-20250408-ASN_Pemprov_DK_Jakarta-HER_6.jpg)