Jakarta – Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) mempertimbangkan untuk menahan ekspansi bisnis imbas kenaikan suku bunga Bank Indonesia (BI) aau BI Rate. Hal tersebut dinilai sebagai dampak yang perlu diukur oleh pengusaha.
Ketua Umum Apindo, Shinta Kamdani mengungkapkan pengusaha cenderung berada dalam tekanan oleh berbagai faktor. Kenaikan BI Rate menjadi 5,5 persen turut juga menambah beban pembiayaan, apalagi bagi perusahaan yang cukup bergantung pada kredit perbankan.
BACA JUGA:BI Rate Naik, OJK Cermati Dampak ke Perbankan
BACA JUGA:OJK Paparkan Penyebab IHSG Melonjak 7,5%
BACA JUGA:Respons Luhut Soal Kenaikan BI Rate
BACA JUGA:BI Rate Naik Jadi 5,50 Persen, Begini Strategi Antisipasi Bank Raya
Dengan kenaikan BI Rate, dunia usaha tentu berpotensi melakukan recalibration (kalibrasi ulang) terhadap rencana ekspansi bisnis dan investasi, ujar Shinta saat dikonfirmasi Selasa (9/6/2026).
Dia menerangkan, perusahaan besar masih memungkinkan untuk bertahan karena memiliki diversifikasi pendanaan dan likuiditas yang lebih baik. Namun bagi sektor usaha padat karya, UMKM, maupun industri dengan margin usaha sedikit, kenaikan beban pembiayaan akan memengaruhi keputusan ekspansi.
Dalam situasi seperti ini, pelaku usaha cenderung menjadi lebih berhati-hati, terutama dalam melakukan ekspansi kapasitas produksi, investasi baru, pembelian mesin dan alat produksi, ekspansi properti, hingga penambahan tenaga kerja, tutur dia.
Apalagi dunia usaha saat ini juga masih menghadapi disrupsi permintaan global serta tekanan konsumsi domestik. Karena itu, tantangan terbesar saat ini adalah bagaimana menjaga keseimbangan antara stabilitas makro dan keberlanjutan momentum pertumbuhan sektor riil, sambung Shinta.




:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4184395/original/026585700_1665141029-FOTO.jpg)

:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5579813/original/028606800_1778076450-1000310580.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3545721/original/010981800_1629425276-059440700_1560940276-20190619-Rupiah-Menguat-di-Level-Rp14.264-per-Dolar-AS1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8067924/original/082139500_1780912668-Foto3.jpg)




:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/2849790/original/043609100_1562754392-20190710-Rupiah-Stagnan-Terhadap-Dolar-AS3.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3000972/original/026902200_1576748930-20191219-BI-Pertahankan-Suku-Bunga-Acuan-di-5-Persen-ANGGA-1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/2889634/original/024713600_1566465083-20190822-BI-4.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4875742/original/093303000_1719401842-20240626-Rupiah_Melemah-ANG_5.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5128632/original/6000_1739254916-DALL__E_2025-02-11_13.21.11_-_A_futuristic_and_dynamic_digital_illustration_of_a_Shiba_Inu_dog_as_a_cryptocurrency_meme_token._The_Shiba_Inu_has_a_confident_and_playful_expression_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4816479/original/001937700_1714383474-fotor-ai-2024042913365.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4876282/original/004384100_1719462261-fotor-ai-2024062711133.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5302027/original/031341800_1753970046-Gemini_Generated_Image_8k5rmv8k5rmv8k5r.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1937629/original/026426200_1519626771-1.jpg)