Jakarta – Mantan Menteri Koordinator Bidang Ekonomi Keuangan dan Industri (Menko Ekuin) Ginandjar Kartasasmita mengungkapkan langkah-langkah kunci yang dilakukan pemerintah dalam memperkuat nilai tukar rupiah pada masa krisis ekonomi dan era awal reformasi.
Dia menegaskan bahwa faktor utama pemulihan nilai tukar rupiah saat itu adalah pemulihan kepercayaan baik dari sisi pasar maupun masyarakat.
BACA JUGA:Rupiah Kembali Melemah, Tertekan Data Inflasi AS
BACA JUGA:Rupiah Dibuka Menguat, Tapi Belum Beranjak dari 17.000 per USD
“Jawaban yang paling utama adalah mengembalikan kepercayaan, katanya, dikutip dari Antara, Jumat (10/4/2026).
Ia menjelaskan krisis ekonomi 1997–1998 tidak semata-mata disebabkan oleh gejolak moneter, melainkan berakar pada hilangnya kepercayaan pasar terhadap pemerintah.
Dalam pandangannya, kondisi tersebut memicu ketidakstabilan ekonomi yang berujung pada lonjakan inflasi dan pelemahan tajam nilai tukar mata uang Indonesia hingga menyentuh kisaran Rp17.000 per dolar Amerika Serikat (AS).
Dirinya yang menjabat sebagai Menko Ekuin pada 1998-1999 menggambarkan situasi kala itu sebagai periode penuh ketidakpastian.
Oleh karena itu, untuk menahan pelemahan lebih dalam, pemerintah saat itu katanya menggandeng lembaga internasional seperti International Monetary Fund (IMF) dan Bank Dunia guna memperoleh dukungan devisa.
“Kita tentu dibantu oleh lembaga internasional, oleh IMF. Karena apa? Karena pada waktu itu devisa kita sudah habis, terus keluar, ucapnya.
Jadi, untuk sementara, kita dapat dukungan devisa dari IMF, dari World Bank dan memang dipersyaratkan dengan berbagai syaratnya. Karena itu kita butuhkan untuk menjaga agar supaya rupiahnya tidak lebih banyak menurun dan secara perlahan meningkat,” katanya lagi.

/2025/08/04/2059509624.jpg)
/2021/09/11/1184819573.jpg)
/2026/01/18/2123596038.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/4802755/original/092840900_1713245923-20240416-Hari_Pertama_ASN_Setelah_Cuti_Lebaran-HER_3.jpg)
/2017/06/14/1946894088.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/3043542/original/085460400_1580992196-20200206-Penggunaan-Kantong-Plastik-Masih-Marak-di-Pasar-Tebet-IQBAL-1.jpg)




:strip_icc()/kly-media-production/medias/5551851/original/080783400_1775783585-d6f42e15-61a2-4931-8543-c943cd99e82e.jpeg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/4723186/original/087016300_1705921832-fotor-ai-2024012218923.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/1369940/original/015660100_1476098427-20161010-Harga-emas-stagnan-di-posisi-Rp-599-Jakarta-AY3.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/1369942/original/091580800_1476098427-20161010-Harga-emas-stagnan-di-posisi-Rp-599-Jakarta-AY5.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/4805341/original/055600100_1713432002-20240418-Kenaikan_Harga_Emas-HER_3.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/2375574/original/030742400_1538739776-20181005-Emas-Antam-5.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/976573/original/043185800_1441279137-harga-emas-5.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5551467/original/045475100_1775726993-IMG-20260409-WA0168.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5547987/original/012195700_1775482007-IMG_3262.jpeg)