Jakarta – Direktorat Jenderal Bea Cukai (Ditjen Bea Cukai) menggagalkan pengeluaran lebih dari 29 kilogram (kg) emas dan barang yang didugas emas yang nilainya mencapai Rp 73,3 miliar. Penindakan penyelundupan emas 29 kg itu berlangsung di empat bandara internasional pada September 2026.
Ditjen Bea Cukai menggagalkan pengeluaran lebih dari 29 kg emas dan barang yang diduga emas di Bandara Internasional Kualanamu, Soekarno-Hatta, I Gusti Ngurah Rai dan Sam Ratulangi. Hal itu termasuk penyembunyian emas dalam peralatan elektronik, koper dan tas, serta body strapping. Pengawasan itu berkaitan dengan kewajiban kepabeanan dan penerapan bea keluar atas ekspor emas sejak 17 November 2025.
BACA JUGA:Antam Usul Penjual Emas Wajib Laporkan Transaksi ke Ditjen Pajak
BACA JUGA:Bea Cukai Cegah Penyelundupan 330 Kg Emas hingga September 2026
Di Bandara Soekarno-Hatta, Bea Cukai mengamankan 10 keping emas cast bar dengan berat 10.053 gram dari dua warga negara China tujuan Hong Kong. Barang tersebut bernilai sekitar Rp 25,3 miliar dan memiliki potensi kerugian penerimaan negara sebesar Rp 2,5 miliar.
Direktur Jenderal Bea dan Cukai, Djaka Budhi Utama menuturkan, pola pengeluaran emas ilegal melalui Soekarno-Hatta menunjukkan adanya risiko berulang yang perlu diantisipasi melalui pengawasan berbasis intelijen.
Penindakan di Bandara Soekarno Hatta terlaksana berdasarkan hasil analisis informasi akan adanya pola pembawaan emas ilegal yang berulang,” tutur Djaka di Kantor Pusat Ditjen Bea Cukai, Selasa, (15/9/2026).
Selain itu, petugas Bea Cukai Ngurah Rai mengamankan 14 keping emas batangan seberat 10.418,3 gram pada 6 September 2026. Barang dengan nilai sekitar Rp 26 miliar tersebut berpotensi menimbulkan kehilangan penerimaan negara sebesar Rp 3,9 miliar apabila keluar tanpa memenuhi ketentuan.
Bea Cukai juga mengamankan 19 bungkus serbuk yang diduga emas seberat 5.721 gram di Bandara Sam Ratulangi. Barang tersebut diperkirakan Rp 14,5 miliar dengan potensi kerugian penerimaan negara Rp 1,45 miliar.
/2026/05/26/298353930.jpg)
/2025/04/04/2125923608.jpg)
/2026/05/25/188974398.jpg)
/2026/05/01/886842996.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9348969/original/094768400_1789464843-IMG_7080.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3291090/original/060643400_1604902998-20201109-Donald-Trump-Kalah-Pilpres-AS_-Rupiah-Menguat-4.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5515324/original/038648100_1772170585-Maybank_Indonesia_office.jpg)

:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9346696/original/041602600_1789193559-Untitled.jpg)




:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9310807/original/088871800_1785371580-Gemini_Generated_Image_hjxpijhjxpijhjxp.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3192688/original/061754900_1595929322-20200728-Harga-Emas-Tembus-Rp-1-Juta-per-Gram-3.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3271750/original/055065600_1603102549-20201019-Harga-Emas-Hari-Ini-Stabil-1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3172726/original/046657700_1594117380-20200707-Harga-Emas-Pegadaian-Naik-Rp-4.000-1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4740419/original/047203600_1707701768-fotor-ai-202402128350.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4983416/original/027398600_1730112255-fotor-ai-20241028174236.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4816481/original/059395900_1714383540-fotor-ai-20240429133650.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5302028/original/043459600_1753970064-Gemini_Generated_Image_3a22373a22373a22.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4816484/original/039630500_1714383627-fotor-ai-2024042913407.jpg)