Jakarta – Pemerintah Australia menggugat raksasa manufaktur Amerika Serikat (AS), 3M sebesar USD 1,4 miliar atau setara Rp 24,99 triliun (kurs Rp 17.850 per dolar AS). Atas dugaan penggunaan bahan kimia abadi beracun mencemari puluhan pangkalan pertahanan di seluruh negeri.
Jaksa Agung Australia Michelle Rowland mengatakan, tuntutan ini merupakan klaim hukum terbesar yang pernah diajukan oleh pemerintahan setempat. Sebagai uang pengganti atas biaya besar yang dikeluarkan pemerintah dalam menangani bahan kimia yang dikenal sebagai PFAS di 28 lokasi.Â
BACA JUGA:Gedung Putih Rilis Situs Bertema Alien untuk Tangkap Imigran Ilegal
BACA JUGA:AS Siapkan Desain Uang Kertas 250 Dolar Bergambar Wajah Donald Trump
BACA JUGA:Jadwal Argentina di Piala Dunia 2026: Lawan, Tanggal, dan Lokasi Pertandingan Lengkap
Menurut klaim yang dilayangkan, 3M menyembunyikan dan memberikan informasi yang salah tentang busa tersebut dan dampaknya terhadap lingkungan. Dengan memberikan informasi busa tersebut aman.
Perilaku tidak pantas ini telah menyebabkan biaya yang besar bagi pertahanan dan pembayar pajak Australia. Termasuk lebih dari USD 1 miliar hingga saat ini untuk menyelidiki, memperbaiki, dan mengurangi kontaminasi PFAS di lokasi aset pertahanan, kata Rowland dikutip dari BBC, Kamis (28/5/2026).
Jangan salah, tindakan hukum terhadap 3M ini sangat signifikan, dia menegaskan.Â
Sebagai tanggapan, 3M mengklaim, mereka tidak pernah memproduksi PFAS di Australia, dan telah berhenti menjual busa tersebut di sana 20 tahun yang lalu.
Apa itu PFAS
Adapun PFAS dikenal sebagai zat yang bersifat tahan air dan anti lengket. Unsur ini pun dapat ditemukan dalam busa pemadam kebakaran, telepon seluler, pakaian, dan wajan anti lengket.
Zat kimia ini tidak terurai dalam kondisi lingkungan normal. Penelitian telah menunjukkan bahwa racun tersebut berada dalam konsentrasi berbahaya di air, tanah, dan makanan, serta dapat bertahan lama di dalam tubuh.
Pada 2022, 3M mengatakan akan berhenti memproduksi dan menggunakan PFAS, di tengah kekhawatiran bahwa zat tersebut terkait dengan berbagai masalah kesehatan, termasuk kanker.




:strip_icc()/kly-media-production/medias/953316/original/021276300_1439363719-20150812-Rupiah-Anjlok4.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5452963/original/012904600_1766463626-WhatsApp_Image_2025-12-23_at_07.57.51.jpeg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5523348/original/025470200_1772803676-Menteri_Keuangan_Purbaya_Yudhi_Sadewa-6_Maret_2026.jpeg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5085176/original/055731400_1736393185-20250108_123321.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5539267/original/091129700_1774595159-IMG-20260327-WA0004.jpg)




:strip_icc()/kly-media-production/medias/5382999/original/069219700_1760612391-3.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5241224/original/052209200_1748943401-1000059557.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/7179285/original/086357100_1779974058-Penjualan_tiket_KAI_saat_libur_Idul_Adha_dan_Hari_Lahir_Pancasila.jpg)