Jakarta – Pemerintahan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump telah menambahkan 10 individu dan perusahaan ke dalam daftar entitas global yang dikenai sanksi. Hal ini akibat dugaan keterkaitan dengan militer Iran.
Mengutip Al Jazeera, ditulis Rabu (30/9/2026), dalam sebuah pernyataan pada Selasa pekan ini, Departemen Keuangan AS menuduh sejumlah perwakilan dan perusahaan teknologi yang berbasis di China, Pakistan, Turki dan Arab Saudi melakukan pengadaan senjata serta suku cadang untuk militer Iran. Tiga dari entitas yang dikenai sanksi itu berlokasi di Iran.
BACA JUGA:AS Akhiri Misi Militer di Irak
BACA JUGA:California Tetapkan Idulfitri dan Iduladha sebagai Hari Libur
BACA JUGA:Trump Terapkan Standar Bahan Bakar Baru
Tindakan hari ini semakin melemahkan kemampuan rezim Iran untuk memulihkan program senjatanya dan meningkatkan biaya bagi pihak-pihak yang memilih untuk membantu upaya pengadaan militer Teheran, ujar Departemen Keuangan AS.
Sanksi ini diterapkan sebagai bagian dari Operation Economic Outcast (Operasi Pengucilan Ekonomi), sebuah upaya Departemen Keuangan untuk semakin membatasi akses Iran ke pasar global.
Iran telah terlibat dalam perang melawan AS dan Israel sejak 28 Februari, setelah kedua sekutu tersebut melancarkan serangkaian serangan mematikan yang menargetkan kepemimpinan dan militer Teheran.
Namun, para kritikus berpendapat perang ini tidak menunjukkan tanda-tanda akan segera berakhir, meskipun kedua belah pihak sama-sama mengklaim kemenangan.
Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengumumkan Operation Economic Outcast pada Agustus, yang bertujuan menekan Teheran agar menyetujui kesepakatan untuk mengakhiri perang.
Trump mengklaim operasi tersebut akan memicu perang ekonomi dan isolasi dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya, serta memperingatkan negara mana pun yang berdagang dengan Iran akan menghadapi konsekuensi yang sangat berat.
Sebagai bagian dari gelombang awal sanksi dalam kampanye tersebut, perusahaan dan pemimpin bisnis yang berbasis di China turut menjadi sasaran.
Akan tetapi, China tetap menjadi salah satu mitra dagang terbesar Iran, dan pemerintahan Trump menghadapi sorotan tajam mengenai seberapa keras akan menindak Beijing terkait keterlibatannya dalam perekonomian Iran.
/2025/10/12/1852967657.jpg)
/2023/06/13/393498499.jpg)
/2025/09/05/1983514634.jpg)
/2023/10/30/2092013017.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5408404/original/047447100_1762773374-vitaly-gariev-F9gWctom-pI-unsplash.jpg)


:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4740421/original/097240200_1707701801-fotor-ai-202402128340.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/4762384/original/053556300_1709622762-fotor-ai-20240305141019.jpg)




:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/2916544/original/089328000_1568906453-jambi3.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5294115/original/036723400_1753352058-IMG-20250724-WA0006.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9361778/original/015036000_1790747356-1000458248.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3337093/original/010245400_1609328702-20201230-Rupiah-Ditutup-Menguat-2.jpg)