Jakarta – 25 merek beras fortifikasi yang diduga tidak memenuhi standar telah menyetop produksi dan seluruh produknya sedang dalam proses penarikan dari peredaran hingga minggu pertama September 2026. Badan Pangan Nasional (Bapanas) menyatakan, langkah ini untuk melindungi konsumen.
“Itu penipuan. Ini menyusahkan konsumen kita, karena tujuan pemerintah ingin supaya konsumen menikmati harga beras yang baik,” ujar Kepala Bapanas, Andi Amran Sulaiman dikutip dari Antara, Rabu (16/9/2026).
BACA JUGA:Antam Bangun Pabrik Logam Mulia di Gresik
BACA JUGA:Kementerian ESDM Pastikan Kualitas B50 Baik saat Uji Coba
BACA JUGA:Trump Ancam Setop Penjualan Bombardier di AS
Produsen beras fortifikasi yang diduga tidak sesuai dengan klaim gizi dan label kemasan telah ditindak tegas oleh pemerintah. Hal ini sebagai upaya perlindungan masyarakat sebagai konsumen.
Amran menyatakan, masyarakat harus memperoleh produk beras fortifikasi yang sesuai dengan klaim produsen seperti tertera dalam izin edar dan klaim kandungan gizi pada label kemasan.
Terhadap 11 pelaku usaha sebagai pemilik 25 izin edar merek beras fortifikasi yang tak sesuai itu telah diberikan surat peringatan oleh Otoritas Kompeten Keamanan Pangan Daerah (OKKPD) dalam koordinasi Bapanas.
OKKPD yang dilibatkan Bapanas antara lain DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, D.I.Yogyakarta, dan Sumatera Utara.
Hingga minggu pertama September 2026, seluruh merek beras fortifikasi bermasalah terpantau telah menghentikan produksi, dengan 12 merek sudah menarik stok dari peredaran, sementara sisanya masih menjalani proses penarikan.
Menurut Amran, praktik tak jujur dalam ekosistem perberasan seperti ini tidak dapat dibiarkan. Pemerintah berkewajiban memastikan masyarakat sebagai konsumen dapat mengakses produk beras yang sesuai dengan spesifikasi dalam izin edar dan tentunya dengan harga yang wajar pula.
/2026/05/26/298353930.jpg)
/2023/07/28/610119775.jpg)
/2026/05/26/57172035.jpg)
/2026/05/26/1028204233.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9349900/original/049302900_1789549082-photo_6149946818150733249_w.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9349550/original/040991000_1789533261-ChatGPT_Image_Sep_16__2026__11_33_03_AM.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9349194/original/028145900_1789477848-1000442806.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3324618/original/083189900_1608026626-20201215-Harga-emas-terus-turun-ANGGA-3.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9309011/original/063278500_1785214678-ChatGPT_Image_Jul_28__2026__07_13_04_AM.jpg)




:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4013693/original/013633000_1651632346-000_329D9VG.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3271752/original/024896400_1603102550-20201019-Harga-Emas-Hari-Ini-Stabil-2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9349146/original/027677800_1789474662-DBS_Singapore_1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4816479/original/001937700_1714383474-fotor-ai-2024042913365.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9313336/original/086824700_1785634470-ChatGPT_Image_Aug_2__2026__08_33_41_AM.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4740419/original/047203600_1707701768-fotor-ai-202402128350.jpg)