• Disclaimer
  • Kontak Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
  • Peta Situs
Sabtu, Oktober 17, 2026
  • Login
Berita Keuangan Indonesia
  • Home
  • News
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
  • EKONOMI
    • BISNIS
    • KEUANGAN
  • CRYPTO
    • BLOCKCHAIN
  • INVESTASI
    • KEUANGAN PRIBADI
    • INVESTASI SAHAM
  • ANALISIS KEUANGAN
    Kadin, Apindo, HKI Ungkap Dampak Pemadaman Listrik Bergilir Bagi Industri & Pengusaha

    Kadin, Apindo, HKI Ungkap Dampak Pemadaman Listrik Bergilir Bagi Industri & Pengusaha

    Penjelasan Lengkap Kementerian ESDM, PLN dan DEN Soal Pemadaman Listrik Bergilir

    Penjelasan Lengkap Kementerian ESDM, PLN dan DEN Soal Pemadaman Listrik Bergilir

    TAM Beberkan Strategi Penjualan di Tengah Penurunan Penjualan Kendaraan LCGC

    TAM Beberkan Strategi Penjualan di Tengah Penurunan Penjualan Kendaraan LCGC

    Wacana Kenaikan Harga DMO Batubara Kembali Menguat, Ini Dampak bagi PLN dan Tambang

    Wacana Kenaikan Harga DMO Batubara Kembali Menguat, Ini Dampak bagi PLN dan Tambang

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
  • EKONOMI
    • BISNIS
    • KEUANGAN
  • CRYPTO
    • BLOCKCHAIN
  • INVESTASI
    • KEUANGAN PRIBADI
    • INVESTASI SAHAM
  • ANALISIS KEUANGAN
    Kadin, Apindo, HKI Ungkap Dampak Pemadaman Listrik Bergilir Bagi Industri & Pengusaha

    Kadin, Apindo, HKI Ungkap Dampak Pemadaman Listrik Bergilir Bagi Industri & Pengusaha

    Penjelasan Lengkap Kementerian ESDM, PLN dan DEN Soal Pemadaman Listrik Bergilir

    Penjelasan Lengkap Kementerian ESDM, PLN dan DEN Soal Pemadaman Listrik Bergilir

    TAM Beberkan Strategi Penjualan di Tengah Penurunan Penjualan Kendaraan LCGC

    TAM Beberkan Strategi Penjualan di Tengah Penurunan Penjualan Kendaraan LCGC

    Wacana Kenaikan Harga DMO Batubara Kembali Menguat, Ini Dampak bagi PLN dan Tambang

    Wacana Kenaikan Harga DMO Batubara Kembali Menguat, Ini Dampak bagi PLN dan Tambang

No Result
View All Result
Berita Keuangan Indonesia
No Result
View All Result

HOME » News » NASIONAL » Ketika Korban Kekerasan Seksual Memilih Diam dan Tak Melapor, Sejauh Mana Negara Berpihak?

Ketika Korban Kekerasan Seksual Memilih Diam dan Tak Melapor, Sejauh Mana Negara Berpihak?

Indonesia Financial News by Indonesia Financial News
2026-01-31
0

Baca 10 detik

Mayoritas korban kekerasan seksual tidak melapor disebabkan hambatan struktural sosial, seperti data survei menunjukkan lebih dari 57 persen memilih tidak melapor.
UU TPKS menjamin korban berhak mendapatkan penanganan medis dan pendampingan sebelum melapor, tanpa harus dibebani biaya visum.
Implementasi UU TPKS masih menghadapi tantangan serius, termasuk praktik *victim blaming* serta belum meratanya penanggungan biaya visum oleh negara.

wmhg.org – Banyak korban kekerasan seksual berhenti di tengah jalan bukan karena mereka tidak ingin keadilan, tetapi karena beragam hambatan struktural dan sosial yang membuat proses pelaporan terkesan menakutkan, membingungkan, atau terasa tidak jelas arah dan manfaatnya.

Data empiris menunjukkan realitas ini jauh lebih serius daripada yang tertera di sistem resmi. Survei Barometer Kesetaraan Gender yang dilakukan oleh Indonesian Judicial Research Society (IJRS) dan INFID (2020) menemukan bahwa 57,3 persen korban kekerasan seksual memilih tidak melapor meskipun mengetahui tempat pelaporan potensial. Sementara itu, hanya 42,6 persen yang pernah melapor secara formal.

Hambatan yang disebutkan responden termasuk tidak tahu harus ke mana melapor, rasa takut, dan rasa malu menyingkap kejadian traumatis itu ke pihak luar.

Fenomena serupa juga terekam dalam data Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA) bersama BPS yang dirilis dalam survei nasional 2025. Data tersebut menunjukkan bahwa fenomena kekerasan seksual menyerupai gunung es.

Dari ratusan ribu perempuan yang mengalami kekerasan, hanya sebagian kecil yang tercatat dalam sistem layanan resmi seperti Simfoni PPA. Misalnya, dari jutaan perempuan yang mengalami kekerasan, laporan yang tercatat hanya sekitar 0,19 persen, sementara 99,81 persen lainnya memilih diam tanpa melapor.

Korban Berhak Periksa Medis Sebelum Lapor Polisi

Kewajiban negara terhadap korban kekerasan seksual diatur tegas dalam Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2022 tentang Tindak Pidana Kekerasan Seksual (UU TPKS).

Dalam undang-undang tersebut, korban ditempatkan sebagai subjek yang harus dilindungi, bukan sekadar pelengkap dalam proses hukum. Pasal 67 UU TPKS menegaskan bahwa korban berhak atas penanganan medis, pendampingan psikologis dan hukum, perlindungan dari ancaman dan intimidasi, serta pemulihan dan restitusi.

Negara juga dilarang mempersulit korban. Bahkan, biaya pemeriksaan medis dan visum seharusnya ditanggung oleh negara, bukan dibebankan kepada korban.

Tak lama setelah UU tersebut disahkan, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) tahun 2022, Sri Bintang Puspayoga, menegaskan bahwa UU TPKS dirancang untuk mengakhiri praktik menyalahkan korban dan memastikan negara hadir sejak awal hingga pemulihan.

“UU TPKS memastikan korban mendapatkan layanan yang komprehensif, mulai dari kesehatan, hukum, hingga pemulihan psikososial,” ujarnya kala itu.

Korban kekerasan seksual dianjurkan untuk segera melakukan pemeriksaan medis di layanan kesehatan pascakejadian. Berdasarkan UU TPKS, khususnya Pasal 67 dan Pasal 68, korban berhak atas penanganan medis, psikologis, dan pendampingan tanpa mensyaratkan laporan polisi terlebih dahulu.

Artinya, akses layanan kesehatan tidak boleh ditunda hanya karena belum ada laporan pidana.

Ketika Korban Kekerasan Seksual Memilih Diam dan Tak Melapor, Sejauh Mana Negara Berpihak?
Infografis korban kekerasan seksual. (wmhg.org/Iqbal)

Visum Wajib Ditanggung Negara

Hak korban untuk mendapatkan pemeriksaan medis, visum, dan pendampingan kembali ditegaskan dalam Pasal 67 dan Pasal 68 UU TPKS. Dalam aturan tersebut disebutkan bahwa korban berhak atas fasilitas penanganan, perlindungan, serta pemulihan, termasuk layanan kesehatan seperti visum.

Namun dalam praktiknya, masih banyak korban kekerasan seksual justru harus menanggung sendiri biaya visum yang nilainya bisa mencapai ratusan ribu rupiah.

Kasus mahasiswi korban pemerkosaan di Jember, misalnya, mengemuka setelah korban diminta membayar visum secara mandiri sebelum melapor ke polisi. Situasi serupa juga ditemukan di sejumlah daerah lain, di mana ketiadaan anggaran daerah membuat rumah sakit membebankan biaya visum kepada korban, meski visum merupakan bagian dari alat bukti pidana dan perlindungan kesehatan korban.

Persoalan ini diakui pemerintah sebagai masalah implementasi. Menteri PPPA saat ini, Arifah Fauzi, menyatakan bahwa pembiayaan visum korban kekerasan seksual belum sepenuhnya seragam di seluruh daerah, meskipun secara hukum menjadi kewajiban negara.

Arifah menyebut, skema pembiayaan visum saat ini masih beragam dan sangat bergantung pada kebijakan pemerintah daerah. Ada daerah yang menanggung biaya visum melalui pemerintah daerah, ada pula yang menggunakan Dana Alokasi Khusus (DAK) non-fisik dari Kementerian PPPA, bahkan sebagian memanfaatkan dukungan dana dari Badan Amil Zakat Nasional (Baznas).

Ia mencontohkan Provinsi Jawa Tengah sebagai daerah yang hingga kini masih menanggung biaya visum korban kekerasan seksual melalui rumah sakit daerah. Namun, kondisi tersebut tidak berlaku merata di seluruh wilayah Indonesia.

“Yang belum mungkin anggaran untuk daerahnya belum mencakup ke situ,” ujarnya.

Arifah juga mengakui bahwa pihaknya belum memiliki data lengkap terkait daerah-daerah yang belum mengalokasikan anggaran khusus untuk biaya visum korban. Namun, Kementerian PPPA telah menyiapkan skema pendanaan melalui DAK non-fisik yang dapat dimanfaatkan oleh pemerintah daerah.

Perlu Keberpihakan Nyata bagi Korban

Masalah lain yang kerap muncul adalah pendekatan aparat dan lingkungan sosial yang belum sepenuhnya berperspektif korban. KPPPA secara terbuka mengakui bahwa praktik victim blaming masih menjadi penghalang besar bagi korban untuk melapor.

Korban kerap disalahkan atas pakaian, perilaku, atau relasi sosialnya, baik oleh masyarakat maupun oleh aparat yang belum sensitif terhadap trauma.

Di tengah proses hukum yang panjang dan kerap melelahkan korban, Komnas Perempuan dalam laporan dan catatan tahunan 2025 juga menilai bahwa tantangan utama UU TPKS terletak pada implementasi.

Wakil Ketua Komnas Perempuan, Dahlia Madanih, menyatakan bahwa meskipun payung hukum sudah tersedia, penggunaan undang-undang dalam penanganan kasus kekerasan seksual masih sangat terbatas karena rendahnya pelaporan, kuatnya stigma, serta pendekatan aparat yang belum sepenuhnya responsif terhadap korban.

Keberpihakan negara, menurut Komnas Perempuan, baru terasa jika korban tidak lagi dipaksa berjuang sendirian menghadapi sistem hukum yang berlapis dan minim perspektif korban.

Pada akhirnya, persoalan kekerasan seksual bukan semata soal ada atau tidaknya undang-undang, melainkan tentang seberapa sungguh negara memastikan setiap pasal itu hidup dalam praktik. Ketika korban masih harus memikirkan biaya visum, menghadapi pertanyaan yang menyudutkan, atau kebingungan mencari pintu pertama untuk meminta pertolongan, maka sistem belum benar-benar berpihak. Hukum yang kuat di atas kertas akan kehilangan makna jika perjalanan korban menuju keadilan tetap terasa sunyi, berliku, dan melelahkan.

Indonesia Financial News

Indonesia Financial News

Next Post

Investigasi Ungkap State Capture Corruption Industri Rokok, Eks Pejabat Jadi Komisaris

  • POPULER
  • TOPIK POPULER
  • TERBARU
Bos BEI Kaget Setelah MSCI Berpotensi Ubah Status Pasar Saham Indonesia

Bos BEI Kaget Setelah MSCI Berpotensi Ubah Status Pasar Saham Indonesia

2026-10-17
Mengenal Robert E. Hall dan Michael Woodford, Peraih Nobel Ekonomi 2026

Mengenal Robert E. Hall dan Michael Woodford, Peraih Nobel Ekonomi 2026

2026-10-13
Said Iqbal Usulkan Upah Minimum 2027 Naik Hingga 9,5%

Said Iqbal Usulkan Upah Minimum 2027 Naik Hingga 9,5%

2026-10-14
Tabung CNG Pengganti LPG 3 Kg Diimpor dari China

Tabung CNG Pengganti LPG 3 Kg Diimpor dari China

2026-10-15
Energi Mega Persada Bayar Utang dengan Konversi Saham

Energi Mega Persada Bayar Utang dengan Konversi Saham

Pasokan Meningkat Tingkat Okupansi Perkantoran Turun 2017

Pasokan Meningkat Tingkat Okupansi Perkantoran Turun 2017

Kenaikan Harga Minyak Mulai Bayangi Investor, IHSG Terkoreksi

Kenaikan Harga Minyak Mulai Bayangi Investor, IHSG Terkoreksi

Harga Minyak Membumbung, Saham Migas Diburu Investor

Harga Minyak Membumbung, Saham Migas Diburu Investor

Harga Emas Hari Ini Menguat Tersengat Dolar AS Lesu

Harga Emas Hari Ini Menguat Tersengat Dolar AS Lesu

2026-10-17
Harga Emas Antam 16 Oktober 2026 Naik Jadi Rp 2.565.000 per Gram

Harga Emas Antam 16 Oktober 2026 Naik Jadi Rp 2.565.000 per Gram

2026-10-17
Harga Emas Pegadaian 16 Oktober 2026: Galeri24 Naik Jadi Rp 2.517.000

Harga Emas Pegadaian 16 Oktober 2026: Galeri24 Naik Jadi Rp 2.517.000

2026-10-17
Rincian Harga Emas Perhiasan 16 Oktober 2026 dan Panduan Cek Keaslian

Rincian Harga Emas Perhiasan 16 Oktober 2026 dan Panduan Cek Keaslian

2026-10-17

TERPOPULER

  • EKONOMI
  • CRYPTO
Bos Bitwise: Gelembung AI Pecah, Bitcoin Tetap Diuntungkan

Bos Bitwise: Gelembung AI Pecah, Bitcoin Tetap Diuntungkan

2026-10-17
0
Harga Kripto 16 Oktober 2026: Bitcoin Menghijau, Zcash Naik 9,74%

Harga Kripto 16 Oktober 2026: Bitcoin Menghijau, Zcash Naik 9,74%

2026-10-17
0
Google Gemini Prediksi Bitcoin Tembus US$ 175.000, Ini Skenarionya

Google Gemini Prediksi Bitcoin Tembus US$ 175.000, Ini Skenarionya

2026-10-17
0
Investor Korea Ungkap Efek Samping Simpan XRP 5 Tahun, Jadi Rajin Meditasi

Investor Korea Ungkap Efek Samping Simpan XRP 5 Tahun, Jadi Rajin Meditasi

2026-10-17
0
Taiwan Blokir Coinbase dan Kalshi Gara-Gara Taruhan Pemilu

Taiwan Blokir Coinbase dan Kalshi Gara-Gara Taruhan Pemilu

2026-10-17
0
Load More
Berita Keuangan Indonesia

Kita menggunakan cookies untuk membuat website ini lebih baik. Info Selengkapnya!

WMHG INDONESIA

Lkuti Kami

Jelajahi berdasarkan Kategori

  • ANALISIS KEUANGAN
  • BISNIS
  • BLOCKCHAIN
  • CRYPTO
  • EKONOMI
  • INTERNASIONAL
  • INVESTASI
  • INVESTASI SAHAM
  • KEUANGAN
  • KEUANGAN PRIBADI
  • NASIONAL
  • News

Berita Terbaru

Harga Emas Hari Ini Menguat Tersengat Dolar AS Lesu

Harga Emas Hari Ini Menguat Tersengat Dolar AS Lesu

2026-10-17
Harga Emas Antam 16 Oktober 2026 Naik Jadi Rp 2.565.000 per Gram

Harga Emas Antam 16 Oktober 2026 Naik Jadi Rp 2.565.000 per Gram

2026-10-17

Copyright - @ 2024 wmhg.org All right Reserved. Keuangan News.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • INTERNASIONAL
    • NASIONAL
  • EKONOMI
    • BISNIS
    • KEUANGAN
  • CRYPTO
    • BLOCKCHAIN
  • INVESTASI
    • INVESTASI SAHAM
    • KEUANGAN PRIBADI
  • ANALISIS KEUANGAN

Copyright - @ 2024 wmhg.org All right Reserved. Keuangan News.