Jakarta – Nilai tukar rupiah menghadapi tekanan di tengah kenaikan harga minyak dunia, tingginya imbal hasil obligasi Amerika Serikat (AS), dan keluarnya modal asing dari pasar negara berkembang.
Jumat lalu, rupiah ditutup melemah. Mata uang Garuda terkoreksi 89 poin atau 0,50% ke posisi 18.027 per dolar AS, setelah sebelumnya berada di level 17.938 per dolar AS.
BACA JUGA:Bos BI Klaim Bisa Jaga Stabilitas Rupiah, Waspada Dampak Suku Bunga AS
BACA JUGA:Rupiah Tertekan ke 18.046 terhadap Dolar AS, Sentimen The Fed Membebani
BACA JUGA:Rupiah Tersengat Sentimen MSCI dan Harga Minyak
BACA JUGA:Rupiah Hari Ini Melemah ke 18.035 per Dolar AS, Intip Proyeksinya
EBC Financial Group menilai ada lima indikator utama yang perlu dicermati untuk membaca arah rupiah, yakni harga minyak, imbal hasil obligasi AS, arus modal asing, kebutuhan valuta asing (valas) domestik, serta cadangan devisa dan intervensi Bank Indonesia (BI).
Analis Pasar Keuangan EBC Financial Group, Sana Ur Rehman, mengingatkan bahwa perhatian terhadap level Rp 18.000 tidak boleh mengalihkan fokus dari faktor-faktor fundamental yang memengaruhi pergerakan mata uang.
“Level Rp18.000 memang menjadi sorotan utama, tetapi cerita sebenarnya ada pada angka-angka di baliknya: harga minyak, imbal hasil obligasi AS, dan arus modal asing. Pertanyaan kuncinya adalah apakah indikator-indikator ini bergerak bersamaan atau mulai berlawanan arah,” jelasnya, dalam keterangan tertulis, Senin (19/10/2026).
Bank Indonesia menyebut kekhawatiran terhadap inflasi global dan risiko fiskal turut menekan rupiah. Kondisi ini diperberat oleh meningkatnya kebutuhan dolar AS dari importir menjelang akhir kuartal III serta arus keluar dana dari aset negara berkembang.
Jika tekanan eksternal berlanjut, rupiah berisiko melemah menuju 18.200 per dolar AS. Meski selisihnya sekitar 1 persen dari level Rp 18.000, pergerakan tersebut dapat mencerminkan meningkatnya kekhawatiran pelaku pasar.
EBC menegaskan, tidak ada satu faktor yang bisa membalikkan arah rupiah sendirian. Karena itu, kelima indikator perlu dibaca secara bersamaan untuk menilai apakah tekanan terhadap rupiah akan berlanjut atau mulai mereda.
/2026/08/03/1887649803.jpg)
/2023/04/27/1632366693.jpg)
/2026/02/18/1346664671.jpg)
/2026/08/28/1217435868.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3337095/original/079976700_1609328703-20201230-Rupiah-Ditutup-Menguat-4.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9355223/original/047451100_1790085132-1000450937.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3518881/original/000279300_1627027346-karbon_un.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9375537/original/049333800_1792153756-Citi_Logo_Ambiance.jpeg)




:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5472770/original/094808400_1768375318-5.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3352147/original/086289000_1610959706-20210118-Emas-Antam-1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3975039/original/078300400_1648205647-20220325-Harga-emas-pegadaian-naik-ANGGA-4.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3532281/original/068580000_1628161372-20210805-Harga-emas-alami-penurunan-ANGGA-2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/2358749/original/070880200_1536904477-afpprison.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4876282/original/004384100_1719462261-fotor-ai-2024062711133.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5302021/original/032085300_1753969488-Gemini_Generated_Image_jtk1w2jtk1w2jtk1.jpg)
:strip_icc():format(webp):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/liputan6/watermark-gray-landscape-new.png,45,645,0)/kly-media-production/medias/4856444/original/021606300_1717750001-20240512_102627.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4594243/original/089058400_1696137886-andre-francois-mckenzie-iGYiBhdNTpE-unsplash.jpg)