Jakarta – Nilai tukar rupiah terus mengalami tekanan hingga mendekati level 18.000 per dolar Amerika Serikat (AS). Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada pembukaan perdagangan turun 17 poin atau 0,09% menjadi 17.933 per dolar AS dibandingkan penutupan sebelumnya di posisi 17.916 per dolar AS.
Ekonom CORE Indonesia, Mohammad Faisal, mengungkapkan sejumlah faktor eksternal menjadi pendorong utama pelemahan mata uang Garuda dalam sepekan terakhir.
BACA JUGA:Rupiah Menguat ke 17.903 per Dolar AS, Ini Pendorongnya
BACA JUGA:Rupiah Makin Dekati 18.000 per Dolar AS, Data Ekonomi AS Jadi Pemicu
BACA JUGA:Cadangan Devisa Indonesia Naik ke US$ 146,5 Miliar
Faisal menjelaskan, salah satu sentimen global yang memberikan tekanan terhadap rupiah adalah keputusan Bank Sentral AS atau The Federal Reserve (The Fed) yang menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin.
Kondisi tersebut membuat selisih (spread) antara Fed Fund Rate dengan BI Rate semakin menyempit. Sebelum kenaikan tersebut, selisih kedua suku bunga berada di kisaran 200 basis poin, namun kini menyusut menjadi sekitar 175 basis poin.
Gejolak Timur Tengah Tekan Rupiah
Menurut Faisal, kenaikan suku bunga The Fed bukan menjadi satu-satunya pemicu. Ketegangan geopolitik di Timur Tengah serta lonjakan harga minyak dunia turut menambah tekanan baru terhadap nilai tukar.
Dinamika geopolitik di Timur Tengah saat ini menjadi faktor yang paling dominan membebani rupiah, jelas dia kepada Jumat (25/9/2026). Â
Gejolak tersebut memicu kenaikan harga minyak dan komoditas global, sekaligus berpotensi mengganggu rantai pasok dunia. Kondisi ini pada akhirnya mendorong pelaku pasar berburu aset aman (safe haven).
Situasi tersebut memicu arus modal keluar (capital outflow) dari negara-negara berkembang (emerging markets), termasuk Indonesia. Pada saat yang sama, dolar AS kembali menjadi perburuan utama investor karena dinilai sebagai aset yang paling aman.
/2026/05/21/1815365879.jpg)
/2025/08/20/1099693990.jpg)
/2025/05/16/900565566.jpg)
/2025/12/08/1288244716.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9338661/original/077969400_1788337107-kom7.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9353342/original/073453900_1789961127-IMG_7201.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5472850/original/077010600_1768378156-Menteri_Keuangan_Purbaya_Yudhi_Sadewa-14_Januari_2026-2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5474423/original/065994600_1768476612-Ketua_Umum_Kadin_Indonesia__Anindya_Novyan_Bakrie-15_Januari_2026-a.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9356767/original/013627700_1790220690-WhatsApp_Image_2026-09-24_at_10.21.532.jpeg)




:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9309011/original/063278500_1785214678-ChatGPT_Image_Jul_28__2026__07_13_04_AM.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3324621/original/092329900_1608026628-20201215-Harga-emas-terus-turun-ANGGA-6.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4881567/original/061423100_1719967228-fotor-ai-2024070373734.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3458468/original/004833700_1621321944-20210518-Harga-Emas-Antam-1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4983417/original/043664500_1730112269-fotor-ai-20241028174231.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4816483/original/040342400_1714383611-fotor-ai-20240429134010.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5028255/original/089063500_1732871319-fotor-ai-2024112916722.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4740420/original/059441100_1707701782-fotor-ai-2024021283456.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5400373/original/025506300_1762089346-Untitled.jpg)