Jakarta – Nilai tukar rupiah kembali tertekan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan Jumat. Mata uang Garuda ditutup melemah 35 poin atau 0,20 persen ke level Rp 17.881 per dolar AS, dibandingkan posisi sebelumnya di Rp 17.846 per dolar AS.
Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi menilai pelemahan rupiah dipengaruhi oleh pergerakan harga minyak dunia yang masih sangat fluktuatif dalam beberapa waktu terakhir.
BACA JUGA:IHSG Sepekan Turun 0,56%, Rebalancing MSCI hingga Rupiah jadi Pemicu
BACA JUGA:Top 3: Kurs Dolar dan Rupiah di 4 Bank Besar
Menurut dia, pasar energi global masih dibayangi berbagai sentimen yang saling bertolak belakang terkait perkembangan negosiasi gencatan senjata di kawasan Timur Tengah.
Harga minyak tetap sangat fluktuatif dalam beberapa sesi terakhir karena pasar bereaksi terhadap berita utama yang saling bertentangan seputar negosiasi gencatan senjata, kata Ibrahim, Jumat (30/5/2026).
Sebelumnya, sentimen pasar sempat membaik setelah muncul laporan bahwa Washington dan Teheran telah mencapai draf kesepakatan untuk memperpanjang gencatan senjata selama 60 hari. Kesepakatan tersebut disebut menjadi bagian dari pembahasan lanjutan terkait program nuklir Iran dan isu keamanan kawasan.
Harapan tercapainya kesepakatan itu sempat meredakan kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan minyak global. Selain itu, muncul optimisme bahwa aktivitas pengiriman melalui Selat Hormuz dapat kembali normal secara bertahap.
Meski demikian, volume lalu lintas kapal di jalur strategis tersebut masih berada di bawah kondisi sebelum konflik. Akibatnya, premi risiko geopolitik masih membayangi pergerakan harga minyak dunia dan memengaruhi sentimen pasar keuangan.




:strip_icc()/kly-media-production/medias/2053635/original/071518800_1522820303-20180404-BI-MER-AB2a.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/4282588/original/045207500_1672910856-Imbas_potensi_perlambatan_ekonomi_nilai_rupiah_melemah_terhadap_dollar-ANGGA_7.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/7005737/original/042333400_1779777189-IMG-20260526-WA0011.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/2349348/original/089030500_1535967795-China-New-Tycoons-Sel.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5469733/original/047602200_1768181200-Beras_SPHP.jpg)




:strip_icc()/kly-media-production/medias/5472770/original/094808400_1768375318-5.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/3532284/original/011004900_1628161432-20210805-Harga-emas-alami-penurunan-ANGGA-3.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/7198314/original/053184400_1779992472-Chairman_dan_CEO_Micron_Technology_Sanjay_Mehrotra_.jpeg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5219635/original/040174000_1747221146-20250514-Harga_Emas-ANG_6.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/4156439/original/081310900_1663062668-Emas3.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/976570/original/042706700_1441279137-harga-emas-2.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5508696/original/058250100_1771586403-Menteri_Koordinator_Bidang_Perekonomian_Airlangga_Hartarto-20_Februari_2026a.jpeg)