Jakarta – Ketidakpastian global dan domestik masih membayangi pergerakan nilai tukar rupiah. Kondisi ini membuat ekonom memprediksi mata uang rupiah belum akan mampu menguat jauh dari level Rp 17.000 per dolar AS dalam waktu dekat.
Kepala Ekonom Permata Bank, Josua Pardede, menilai rupiah diperkirakan tetap bergerak di kisaran Rp 17.000 per dolar AS. Meski demikian, ia berharap nilai tukar masih dapat terjaga di bawah Rp 17.500 per dolar AS agar tidak memicu ekspektasi negatif di pasar.
BACA JUGA:BI Ungkap Pembatasan Beli Valas Bukan Kebijakan Dadakan
BACA JUGA:Ekonom Nilai Narasi Influencer Rupiah Lemah Bagus Buat Ekspor Menyesatkan
BACA JUGA:Belajar dari Krisis 2008, Pemerintah Siapkan Antisipasi Hadapi Gejolak Global
Kalau melihat kondisi seperti saat ini, kami melihat bahwa rupiah masih di level Rp17.000-an, hopefully masih di bawah Rp 17.500 per dolar AS. Harapannya kembali lagi ini tidak sampai ekspektasi liar itu terjadi, kata Josua dalam Media Briefing Bank Indonesia di Makassar, Sulawesi Selatan, Sabtu (23/5/2026).
Menurut Josua, secara teoritis rupiah sebenarnya memiliki peluang untuk berada di level yang lebih kuat, bahkan di bawah Rp 17.000 per dolar AS. Namun, berbagai faktor risiko global, kondisi ekonomi terkini, hingga respons kebijakan dari Bank Indonesia membuat proyeksi tersebut belum mudah tercapai.
Ia menjelaskan bahwa para ekonom dan analis tidak hanya melihat nilai tukar berdasarkan teori semata, tetapi juga mempertimbangkan tekanan eksternal serta dinamika pasar yang dapat memengaruhi stabilitas rupiah.
Kalau kita melihat secara teori, tadi nilai tukar riil efektifnya (real effective exchange rate) rupiah dalam kondisi normal itu mestinya kita di bawah Rp 17.000 per dolar AS. Tapi kan kita sebagai ekonom, sebagai analis, kan kita mempertimbangkan ya risiko-risiko global, risiko-risiko yang ada saat ini, dan juga respons kebijakan yang sudah dikeluarkan oleh Bank Indonesia, jelasnya.




:strip_icc()/kly-media-production/medias/6422748/original/063329400_1779292414-1000324231.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/3532284/original/011004900_1628161432-20210805-Harga-emas-alami-penurunan-ANGGA-3.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/7018957/original/079171000_1779792505-IMG-20260526-WA0040.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5060464/original/007193000_1734756490-1734752196030_tips-menjadi-influencer.jpg)





:strip_icc()/kly-media-production/medias/976571/original/042940100_1441279137-harga-emas-3.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/3975034/original/086610900_1648205536-20220325-Harga-emas-pegadaian-naik-ANGGA-2.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5186932/original/075074000_1744629098-20250414-Harga_Emas_Batangan-AFP_5.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5472770/original/094808400_1768375318-5.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/4837500/original/089462600_1716195908-Harga_emas_cetak_rekor_tertinggi-ANGGA_8.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/4013697/original/070218700_1651632437-000_329D9UW.jpg)