Jakarta – Penurunan harga emas belakangan ini semakin terlihat sebagai akibat dari pengelolaan likuiditas darurat oleh sejumlah negara, bukan karena melemahnya fundamental logam mulia tersebut.
Di sisi lain, perlambatan pertumbuhan ekonomi global berpotensi memaksa bank sentral kembali menerapkan kebijakan moneter yang lebih longgar (dovish), yang dapat menjadi pendorong fase berikutnya dari pasar bullish jangka panjang emas.
BACA JUGA:Bea Cukai Cegah Penyelundupan Emas Total Rp 45 M, Ada yang Gotong 10 Kg
BACA JUGA:Akal-akalan WN China Selundupkan 17,5 Kg Emas, Disembunyikan di Koper dan Mi Instan
BACA JUGA:Harga Emas Antam Hari Ini 26 Mei 2026 Turun Tipis, Cek Rincian Terbaru
Mengutip laman Kitco.com, Selasa (26/5/2026) dalam analisis terbaru Managing Partner SPI Asset Management, Stephen Innes, menilai bahwa gejolak yang dipicu perang Iran membuat emas diperdagangkan layaknya aset yang terkena tekanan likuiditas sementara dari dunia nyata, bukan aset yang kehilangan momentum.
“Gelombang kepanikan yang melanda pasar emas setelah guncangan di Selat Hormuz sebenarnya bukan karena investor tiba-tiba kehilangan kepercayaan terhadap emas. Penyebab utamanya adalah likuiditas,” ujar Innes.
Menurutnya, lonjakan harga minyak, terganggunya jalur pelayaran, serta meningkatnya ekspektasi inflasi membuat banyak bank sentral di negara pengimpor energi harus berebut likuiditas dolar AS demi menjaga stabilitas ekonomi domestik.
“Dalam kondisi seperti ini, bahkan aset cadangan yang dianggap sakral pun bisa terpaksa dijual,” katanya.




:strip_icc()/kly-media-production/medias/6408420/original/092112000_1779280892-sepekan-jelang-lebaran-harga-emas-naik-tipis.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5431967/original/043943100_1764752062-IMG_2632.jpeg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5501244/original/065983200_1770890840-Menteri_Koordinator_Bidang_Perekonomian_Airlangga_Hartarto-12_Februari_2026de.jpeg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/7031809/original/057648900_1779806408-Beasiswa_pendidikan_bagi_anak_korban_bencana_Sumatera-26_Mei_2026c.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/7018958/original/087133400_1779792505-IMG-20260526-WA0033.jpg)




:strip_icc()/kly-media-production/medias/3337095/original/079976700_1609328703-20201230-Rupiah-Ditutup-Menguat-4.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/7006208/original/082238100_1779777748-WhatsApp_Image_2026-05-26_at_13.15.46__1_.jpeg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/3291093/original/097460500_1604903000-20201109-Donald-Trump-Kalah-Pilpres-AS_-Rupiah-Menguat-7.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5308548/original/014608000_1754547877-Gemini_Generated_Image_5zzcn95zzcn95zzc.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5552762/original/095126100_1775826104-Menaker_Ajukan_Tambahan_150_Ribu_Kuota_Magang_Nasional_2026_-_2.jpeg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5493433/original/072755900_1770214249-1000225263.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/3528262/original/070069900_1627890127-Mukesh.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5509317/original/022094500_1771679285-CIO_Danatara_Pandu_Sjahrir_2.jpg)