Jakarta – Rencana Bank Indonesia (BI) menurunkan batas pembelian dolar Amerika Serikat (AS) tanpa underlying atau dokumen pendukung menjadi USD 25.000 mulai Juni 2026 bukanlah kebijakan yang muncul secara tiba-tiba.
Bank sentral menegaskan langkah tersebut merupakan bagian dari strategi jangka panjang pengelolaan pasar valuta asing (valas) yang telah dijalankan selama lebih dari dua dekade.
BACA JUGA:Suku Bunga Acuan Naik, BI Siapkan Insentif Likuiditas
BACA JUGA:BI Bakal Batasi Lagi Pembelian Dolar AS
BACA JUGA:Jurus BI Bentengi Rupiah di Tengah Ketidakpastian Global
Direktur Departemen Pendalaman Pasar Keuangan (DPPK) Bank Indonesia, Ruth Cussoy Intama mengatakan bahwa berbagai ketentuan terkait transaksi valas terus disesuaikan sejak 2005 untuk menjaga stabilitas pasar keuangan domestik sekaligus mengurangi ruang bagi aktivitas spekulatif.
“Ini yang kami lakukan sejak tahun 2005 ini ketentuan-ketuan bank Indonesia terkait dengan pasar valas kita, Nah ini ada, jadi dulu tuh derivatif jual, beli-jualnya ini USD 1.000.000 per posisi per bank,” kata Ruth dalam Media Briefing di Makassar, Sulawesi Selatan, Sabtu (23/5/2026).
Adapun BI mencatat berbagai kebijakan pengelolaan pasar valas yang diterapkan sejak 2005 telah melewati beragam tantangan global, mulai dari krisis keuangan internasional, perang dagang Amerika Serikat-China pada 2019, pandemi Covid-19 hingga gejolak ekonomi global dalam beberapa tahun terakhir.
“Ini more or less Juni 2016 sampai Januari 2022 kita agak aman nih. Ya ranging di sini-sini aja kecuali ada Covid gitu ya, ada US-China war, trade war 2019. Ini kalau bisa kita lihat ini ada masa-masa dimana kita bisa punya kursi yang baik sampai ketika adanya Trump Liberation Day ini,” ujarnya.




:strip_icc()/kly-media-production/medias/5558212/original/043696300_1776409719-Jenis_Perhiasan_Emas_yang_Tidak_Rugi_Dibeli_Sekarang_4.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/4881568/original/087545300_1719967244-fotor-ai-2024070373816.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/6597831/original/067072200_1779435331-1463705fa06b3ea8d6b889979a5ce262-whatsapp-image-2026-05-22-at-09-24-17.jpeg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5702050/original/004842100_1778582833-2.jpg)
/2025/10/07/2002674624.jpg)




:strip_icc()/kly-media-production/medias/6830697/original/003618000_1779619075-57992b65-5f14-4955-946f-4313f93717f2.jpeg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/6843528/original/072960200_1779629425-1000324590.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/4066834/original/034753100_1656461868-Harga_Minyak_AFP.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5520902/original/004648400_1772664808-5.jpg)