Jakarta – Bank of Japan (BoJ) atau Bank Sentral Jepang kembali menaikkan suku bunga acuannya menjadi 1%. Keputusan ini membawa suku bunga Jepang ke level tertinggi dalam lebih dari 30 tahun sekaligus menandai berlanjutnya normalisasi kebijakan moneter yang dimulai pada 2024.
BoJ menilai, inflasi konsumen masih berada di bawah target 2% karena berbagai kebijakan pemerintah yang ditujukan untuk menekan beban rumah tangga akibat mahalnya harga energi. Meski demikian, bank sentral mengingatkan, kenaikan harga minyak mentah mulai merembet ke berbagai sektor ekonomi.
BACA JUGA:Bursa Saham Global Melesat, Indeks Nikkei Sempat Tembus 70.000
BACA JUGA:Yen Terpuruk, Pasar Obligasi Jepang Masih Goyang
BACA JUGA:Bank Sentral Australia Tahan Suku Bunga, Waspadai Inflasi
BACA JUGA:Bank Sentral Jepang Dongkrak Suku Bunga, Sentuh Level Tertinggi Sejak 1995
Penerusan kenaikan harga yang berasal dari lonjakan harga minyak mentah berlangsung relatif cepat dalam transaksi antarbisnis dan dapat menyebar menjadi kenaikan harga konsumen pada berbagai jenis barang,” tulis BoJ dalam keterangannya, dilansir dari CNBC, Selasa, 16 Juni 2026.
Kondisi tersebut tercermin pada Indeks Harga Produsen (PPI) Jepang yang naik 6,3% pada Mei, tertinggi dalam lebih dari tiga tahun. Kenaikan biaya energi menjadi pendorong utama lonjakan tersebut.
Ini juga menjadi kenaikan pertama sejak Desember lalu, ketika BoJ menaikkan suku bunga dari 0,5% menjadi 0,75%. Terakhir kali suku bunga Jepang berada di level 1% terjadi pada 1995.
Dalam pernyataannya, BoJ menyebut keputusan itu diambil dengan suara 7 banding 1. Anggota dewan Toichiro Asada menjadi satu-satunya yang menolak kenaikan dan memilih mempertahankan suku bunga di level 0,75%.
Artikel Bank Sentral Jepang Dongkrak Suku Bunga, Sentuh Level Tertinggi Sejak 1995 menyita perhatian pembaca di Kanal Bisnis www.wmhg.org. Ingin tahu artikel terpopuler lainnya di Kanal Bisnis www.wmhg.org? Berikut tiga artikel terpopuler di Kanal Bisnis www.wmhg.org yang dirangkum pada Rabu, (17/6/2026):



/2026/04/01/1909574020.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4915985/original/031607000_1723455246-IMG-20240812-WA0066.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3314598/original/047423300_1606993117-20201203-Kementan-Targetkan-8_2-Juta-Hektare-Sawah-untuk-20-Juta-Ton-Beras-3.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4969282/original/000378800_1728965246-IMG-20241015-WA0002.jpg)





:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/976571/original/042940100_1441279137-harga-emas-3.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3192690/original/063821500_1595929323-20200728-Harga-Emas-Tembus-Rp-1-Juta-per-Gram-5.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4805341/original/055600100_1713432002-20240418-Kenaikan_Harga_Emas-HER_3.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4013695/original/083702900_1651632388-000_329D9V2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5119143/original/000941200_1738566772-XRP_illustration_alternative.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4740419/original/047203600_1707701768-fotor-ai-202402128350.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4816483/original/040342400_1714383611-fotor-ai-20240429134010.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/6998689/original/035930000_1779768956-AP26143053613944.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4740420/original/059441100_1707701782-fotor-ai-2024021283456.jpg)