Jakarta – Menteri Keuangan (Menkeu) Suahasil Nazara menggambarkan APBN sebagai “titik akupuntur” yang dapat menggerakkan aktivitas ekonomi secara lebih luas. Pemerintah mengarahkan belanja negara ke titik-titik tertentu agar anggaran tidak hanya membiayai program pemerintah, tetapi juga menjadi katalis bagi konsumsi rumah tangga, investasi, dan ekspor.
Suahasil mengatakan, total belanja APBN 2026 diperkirakan mencapai Rp 3.842 triliun, sedangkan PDB Indonesia diperkirakan sekitar Rp 25.000 triliun. Menurut dia, besarnya belanja negara hanya menjadi sebagian dari keseluruhan aktivitas ekonomi sehingga APBN harus ditempatkan pada titik yang dapat memberikan efek lebih luas.
BACA JUGA:Suahasil Sebut Sekolah Gratis Masuk Desain Anggaran Pendidikan 2027
BACA JUGA:Cek Fakta: Hoaks, Video Menkeu Suahasil Umumkan Dana Bantuan Rp 10 Miliar untuk Masyarakat
BACA JUGA:Suahasil Nazara Mengundurkan Diri sebagai Wakil Komisaris Utama PLN
“APBN itu masuk ke titik-titik yang kita tahu seperti titik-titik refleksi kaki. Masuk ke satu titik, kemudian efeknya itu bisa ke seluruh badan. Masuk ke satu titik yang memang kita pilih secara cermat, lalu efeknya itu menjalankan ke seluruh perekonomian,” ujar Suahasil di Jakarta, Rabu (23/9/2026).
Suahasil mengatakan, konsep tersebut membuat pemerintah perlu menentukan titik belanja secara cermat. Pemerintah mengarahkan APBN agar dapat mendorong konsumsi rumah tangga, menjadi katalis investasi, mendorong ekspor, dan mendukung pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan.
APBN itu total belanja adalah sekitar Rp 3.800 triliun. Tepatnya tahun ini kita memperkirakan Rp 3.842 triliun. Kalau PDB, produk domestik bruto, tahun ini ada di sekitar angka Rp 25.000 triliun,” kata Suahasil.
Suahasil mengatakan, ekonomi Indonesia tidak hanya tumbuh dari belanja pemerintah. Ia menyebut investasi dan konsumsi rumah tangga sebagai bagian penting dari pergerakan ekonomi, sementara pertumbuhan pengeluaran pemerintah pada semester I 2026 mencapai sekitar 16%.
/2025/05/26/1577929556.jpg)
/2026/03/08/1389890413.jpg)
/2026/05/28/600977240.jpg)
/2025/05/23/885020992.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9356271/original/004497000_1790157143-Image_Article_BRI.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4805339/original/033825900_1713432001-20240418-Kenaikan_Harga_Emas-HER_1.jpg)

:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9354438/original/007347500_1790051775-email-attachment_2026_09_22_immanuel-christian_lbea-cukai-tindak-impor-ilegal-beras-dan-garam-serta-balpres-senilai-rp27-miliar_IMG_7239.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9354433/original/099424600_1790051727-email-attachment_2026_09_22_immanuel-christian_lbea-cukai-tindak-impor-ilegal-beras-dan-garam-serta-balpres-senilai-rp27-miliar_IMG_7249.jpeg)




:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4723188/original/034031500_1705921925-fotor-ai-20240122181144.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4066834/original/034753100_1656461868-Harga_Minyak_AFP.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5563925/original/023437400_1776920404-1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9355499/original/063951000_1790134500-pestapora-2025-day2-66.jpg)