Jakarta – Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sardewa menyinggung adanya mekanisme tertentu dalam perdagangan nikel yang perlu dicermati lebih dalam, termasuk potensi distorsi harga di tingkat hulu dan hilir.
Menurutnya, selama ini pelaku industri cenderung tidak menyuarakan keberatan ketika memperoleh keuntungan, namun baru mengajukan permintaan relaksasi saat kondisi pasar tidak menguntungkan.
BACA JUGA:PNBP SDA Tembus Rp 53,7 Triliun, Lonjakan Harga Emas dan Tembaga Jadi Penopang
BACA JUGA:Bahlil Pastikan RKAB Batu Bara dan Nikel Tak Berubah, Siapkan Relaksasi Terukur
“Kita lihat dulu seperti apa struktur ini. Beli dari sini, murah nikelnya. Berapa persen itu harga internasional. Waktu itu kok dia nggak ribut. Diam-diam aja kalau untung. Kalau rugi, minta langsung kompensasi,” kata Purbaya di Kementerian Keuangan, Kamis (9/4/2026).
Kendati demikian, ia akan tetap mempelajari seluruh masukan dari pelaku industri sebelum menentukan langkah kebijakan yang tepat. Sejauh ini, pihaknya baru mendengar keluhan pelaku industri terkait kenaikan harga sulfur yang dipengaruhi kondisi geopolitik di Timur Tengah.
Kemudian, para pelaku industri logam putih perak ini meminta adanya penundaan bea keluar untuk produk olahan. Aduan ini akan dikaji lebih lanjut karena ia juga tidak ingin memberikan kelegaan dan keuntungan bagi para pelaku industri yang ilegal dan merugikan negara.
“Nanti kita lihat. Kan yang gelap-gelap banyak. Kalau itu saya nggak perlu naikin,” jelasnya.

/2026/01/28/1419203316.jpg)
/2026/02/08/1636791920.jpg)
/2022/02/23/885391879.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5551003/original/082818800_1775715061-1000284951.jpg)
/2017/06/14/1946894088.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5196560/original/068216900_1745413932-20250423-Perkotaan-ANG_7.jpg)
/2026/01/18/2123596038.jpg)




:strip_icc()/kly-media-production/medias/5550464/original/070550700_1775698382-38039b87-fe4d-428a-8980-d1deb1609409.jpeg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/2439239/original/004031600_1542966203-20181123-Nilai-Tukar-Rupiah-Menguat-Atas-Dolar-Angga2.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5551151/original/014052200_1775719526-WhatsApp_Image_2026-04-09_at_13.10.40.jpeg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5551448/original/064483400_1775726721-WhatsApp_Image_2026-04-09_at_16.05.45.jpeg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5550333/original/023387700_1775653134-PHOTO-2026-04-08-17-09-17.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5550332/original/018252100_1775653118-PHOTO-2026-04-08-17-09-19.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5541737/original/080028800_1774882683-IMG-20260330-WA0101.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5549359/original/003858900_1775617048-IMG-20260408-WA0005.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5337503/original/092769700_1756899849-1001002551.jpg)