Jakarta – Nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan dan melemah signifikan hingga menyentuh level Rp 17.794 per dolar Amerika Serikat (AS) dalam perdagangan Selasa (26/5/2026). Analis menuturkan, tekanan terhadap rupiah, salah satunya didorong ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
Selain itu, berdasarkan kurs BCA e-rate pada pukul 12.20 WIB, kurs beli mencapai 17.779 dan kurs jual mencapai 17.799
BACA JUGA:Rupiah Ditutup Melorot ke 17.796 per Dolar AS
BACA JUGA:Rupiah Lesu, Kurs Dolar AS Hari Ini di BCA hingga BNI Sentuh 17.800
BACA JUGA:IHSG Tinggalkan 6.200, Saham ULTJ Turun 1,2% pada Sesi Pertama
“Dalam perdagangan siang ini rupiah ini sudah melemah 50 poin di Rp 17.794,” kata Pengamat Ekonomi, Mata Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi dalam keterangannya kepada media, Selasa (26/5/2026).
Ia mengatakan pelemahan ini dipicu kombinasi sentimen eksternal yang memburuk, mulai dari meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah hingga lonjakan harga minyak dunia.
Ibrahim menjelaskan, pelemahan rupiah kali ini cukup mengkhawatirkan, terutama karena bertepatan dengan momentum libur nasional yang berpotensi membatasi ruang gerak intervensi Bank Indonesia (BI) di pasar domestik.
“Bahwa hari ini rupiah terus mengalami pelemahan. Kita melihat bahwa pelemahan mata uang rupiah di hari ini cukup signifikan. Pelemahannya begitu mengkhawatirkan, apalagi besok di libur nasional yang kemungkinan besar tekanan eksternal ini akan cukup tinggi,” ujarnya.
Menurutnya, tekanan dari pasar global masih sangat kuat sehingga rupiah berisiko melanjutkan tren pelemahan dalam beberapa hari ke depan.
“Bank Indonesia tidak bisa melakukan intervensi di pasar domestik, obligasi, dan surat utang negara sehingga hanya di pasar internasional ini akan membuat rupiah kembali mengalami pelemahan,” ujarnya.
Konflik Timur Tengah Dorong Penguatan USD
Ibrahim menjelaskan, faktor utama yang menekan rupiah berasal dari meningkatnya ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah. Pasar sebelumnya menaruh harapan pada tercapainya kesepakatan antara Amerika Serikat dan Iran terkait isu nuklir yang dimediasi sejumlah negara.
Namun harapan tersebut memudar setelah muncul laporan mengenai serangan Amerika Serikat ke wilayah Iran Selatan. Situasi itu kembali meningkatkan kekhawatiran investor terhadap potensi meluasnya konflik di kawasan yang selama ini menjadi pusat produksi energi dunia.




:strip_icc()/kly-media-production/medias/5385534/original/000454000_1760935303-12__2_.jpeg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/4880407/original/032839300_1719840035-IFG_Life.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/4802755/original/092840900_1713245923-20240416-Hari_Pertama_ASN_Setelah_Cuti_Lebaran-HER_3.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/6377629/original/006536800_1779252749-Rapat_DPR.jpeg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/1420675/original/050202900_1480428315-20161129--Pasar-Keramik-Nasional-Mulai-Meningkat-Jakarta--Angga-Yuniar-02.jpg)




:strip_icc()/kly-media-production/medias/5472770/original/094808400_1768375318-5.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/3188320/original/078196100_1595493634-20200723-Usai-Cetak-Rekor_-Harga-Emas-Antam-Kembali-Turun-IQBAL-2.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/4835850/original/094493600_1716028703-20240518-Cuaca_Panas_India-AP_1.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/4753187/original/088955000_1708926807-Screenshot_20240226_112613_YouTube.jpg)