Jakarta – Nilai tukar rupiah kembali mengalami tekanan dan melemah 82 poin ke level Rp 17.921 per dolar Amerika Serikat (AS). Pengamat Ekonomi, Mata Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi, menilai pemerintah perlu menjaga stabilitas ekonomi dan daya beli masyarakat.
Jadi dalam negeri sendiri kita melihat bahwa pemerintah itu harus menjaga stabilitas ekonomi dan daya beli masyarakat, kata Ibrahim kepada media, Rabu (3/6/2026).
BACA JUGA:Rp 1,17 Triliun Mengalir ke Papua, Proyek Jalan dan Jembatan Baru Dikebut
BACA JUGA:Kerugian Ekonomi Akibat Perubahan Iklim Diprediksi Tembus Rp 2.005 Triliun
BACA JUGA:Kunjungan Mal Naik 15% Saat Libur Panjang
Langkah yang dapat dilakukan antara lain memastikan ketersediaan pasokan barang, menyalurkan bantuan sosial secara tepat sasaran, serta memberikan stimulus konsumsi dan subsidi kepada masyarakat.
Kemudian menyalurkan bantuan sosial berupa Bansos yang tepat sasaran serta memberikan stimulus konsumsi dan subsidi bagi masyarakat. Itu yang pertama, ujar dia.
Selain itu, pemerintah juga perlu memperkuat sektor riil melalui hilirisasi industri, pengembangan ekonomi biru, dan peningkatan produktivitas sektor pertanian guna mendukung ketahanan pangan nasional.
Namun demikian, Ibrahim menilai, tantangan terbesar masih berada pada iklim investasi. Menurut dia, proses perizinan yang masih panjang dan birokrasi yang kompleks menjadi hambatan bagi masuknya investasi asing ke Indonesia.
Jadi, pemerintah harus melakukan penyederhanaan. Dari zaman pemerintahan SBY, Jokowi selalu mengatakan bahwa kita harus menyederhanakan regulasi investasi dan transformasi digital. Tetapi pada kenyataannya sekarang lebih sulit, ujarnya.
Ia berharap, pemerintah dapat mempercepat reformasi birokrasi dan menciptakan iklim investasi yang lebih kondusif agar mampu menarik lebih banyak investasi asing, memperkuat sektor riil, dan pada akhirnya mendukung stabilitas nilai tukar rupiah.




:strip_icc()/kly-media-production/medias/7675134/original/082353600_1780469988-1000336312.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/1588019/original/097014900_1538998899-PG_1.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/7660040/original/046727000_1780453477-1000775495.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5460734/original/054191800_1767277184-5.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5247508/original/065942500_1749538198-pildun.jpg)




:strip_icc()/kly-media-production/medias/7614541/original/048003500_1780400387-fa8e32a0-abd0-41e0-a929-703598e595de.jpeg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5472766/original/082116700_1768375313-1.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/3397781/original/033656000_1615352740-000_94J2M2.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/3152885/original/014322900_1592208164-20200615-Mal-di-Senayan-Kembali-Dibuka-saat-PSBB-Transisi-HERMAN-6.jpg)