Jakarta – Nilai tukar rupiah diproyeksikan kembali melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Jumat, 29 Mei 2026 dan berpotensi mendekati level psikologis Rp 18.000 per dolar AS. Hal itu dipicu ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
Ada kemungkinan hari Jumat rupiah ini akan mendekati level Rp 18.000. Kemungkinan besar, kata Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi kepada www.wmhg.org, Jumat (29/5/2026).
BACA JUGA:BI Ungkap Penyebab Rupiah Melemah, Siapkan Sejumlah Langkah Stabilisasi
BACA JUGA:Alasan Dolar Singapura Perkasa Sepanjang 2026
BACA JUGA:Rupiah Ditutup Melemah ke Rp 17.881 per Dolar AS
BACA JUGA:Respons Bank Indonesia soal Rupiah Dekati 18.000 terhadap Dolar AS
Tekanan eksternal akibat memanasnya konflik geopolitik di Timur Tengah dan Eropa Timur disebut menjadi pemicu utama pelemahan mata uang Rupiah. Ibrahim mengatakan pelemahan rupiah pada perdagangan Kamis, 28 Mei 2026Â sudah menunjukkan tekanan yang sangat besar. Saat memberikan keterangannya, rupiah disebut telah melemah sekitar 70 poin ke level Rp 17.870 per dolar AS.
Hari Kamis, 28 Mei cukup luar biasa terhadap pelemahan mata uang rupiah. Saat saya membuat satu lulis ini, rupiah sudah melemah 70 poin, yaitu di Rp 17.870, ujarnya.
Konflik Timur Tengah Memanas, Harga Minyak Melonjak
Ibrahim menilai, ketegangan geopolitik di Timur Tengah menjadi faktor dominan yang mendorong penguatan dolar AS sekaligus menekan mata uang negara berkembang. Ia menyoroti meningkatnya konflik antara Amerika Serikat dan Iran setelah serangan terhadap instalasi di wilayah Iran Selatan.
Situasi tersebut dinilai berpotensi memicu balasan dari Iran dan meningkatkan eskalasi perang di kawasan. Selain itu, ancaman penyerangan terhadap Oman serta pengerahan kapal-kapal militer Amerika Serikat ke Israel disebut memperbesar risiko konflik skala besar di Timur Tengah.
Menurut Ibrahim, ketegangan di kawasan tersebut juga berpotensi mengganggu jalur distribusi energi global, khususnya di Selat Hormuz dan Laut Oman.
Kondisi ini mendorong lonjakan harga minyak dunia. Kemudian ketegangan di Eropa maupun di Timur Tengah ini membuat harga minyak kembali di atas USD 92 bahkan sekarang di USD 96.
Untuk WTI ini mengindikasikan bahwa kenaikan harga minyak akibat tingginya geopolitik kemudian tingginya transportasi logistik yang membuat harga-harga di Amerika ini mengalami kenaikan yang cukup signifikan terutama gasolin, ujarnya.




:strip_icc()/kly-media-production/medias/4066834/original/034753100_1656461868-Harga_Minyak_AFP.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5452963/original/012904600_1766463626-WhatsApp_Image_2025-12-23_at_07.57.51.jpeg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5523348/original/025470200_1772803676-Menteri_Keuangan_Purbaya_Yudhi_Sadewa-6_Maret_2026.jpeg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5085176/original/055731400_1736393185-20250108_123321.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5539267/original/091129700_1774595159-IMG-20260327-WA0004.jpg)




:strip_icc()/kly-media-production/medias/953316/original/021276300_1439363719-20150812-Rupiah-Anjlok4.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/7170647/original/022415500_1779962071-Perusahaan_3M.jpeg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5241224/original/052209200_1748943401-1000059557.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/7179285/original/086357100_1779974058-Penjualan_tiket_KAI_saat_libur_Idul_Adha_dan_Hari_Lahir_Pancasila.jpg)