Jakarta – Presiden Prabowo Subianto melakukan kunjungan kerja ke Amerika Serikat. Salah satu agendanya adalah menandatangani kesepakatan tarif. Langkah ini diproyeksikan tidak hanya menjaga kinerja ekspor nasional, tetapi juga membuka peluang bagi pelaku UMKM hingga industri untuk memperluas pasar.
Executive Director Segara Institute, Piter Abdullah, mengatakan pemerintah terlihat serius mengupayakan perjanjian tarif yang terbaik dan menguntungkan bagi Indonesia.
BACA JUGA:Presiden Prabowo Cari Mitra Strategis untuk Modernisasi dan Industrialisasi Negara
BACA JUGA:Blak-blakan! Pertanyaan Prabowo Ke Purbaya di Hambalang Saat Awal Krisis: Ada Uang Tidak?
BACA JUGA:Prabowo Ajak Investor AS Gandeng Danantara Garap Proyek Hilirisasi
“Presiden dan pemerintah tampak berkomitmen serta berupaya mendapatkan perjanjian tarif yang paling menguntungkan bagi Indonesia,” ujar Piter, Kamis (19/2/2026).
Menurutnya, sejumlah sektor unggulan Indonesia perlu menjadi prioritas dalam negosiasi dagang dengan AS. Komoditas seperti crude palm oil (CPO), tekstil, alas kaki, serta karet selama ini menjadi andalan ekspor Indonesia ke pasar AS dan memiliki keterkaitan erat dengan rantai pasok UMKM di dalam negeri.
Piter menilai kesepakatan tarif justru akan mendorong neraca perdagangan Indonesia. Hal ini dapat dilihat dari neraca dagang Indonesia yang masih mampu mempertahankan surplus di tengah dinamika perang tarif global.
Sepanjang Januari–Desember 2025, neraca perdagangan Indonesia tercatat sebesar USD 41,05 miliar. Angka ini merupakan surplus ke-68 kalinya secara berturut-turut sejak Mei 2020.
“Terbukti kita masih bisa mempertahankan surplus neraca perdagangan. Saya kira kesepakatan baru antara Indonesia dan Amerika akan lebih menguntungkan Indonesia,” katanya.
Ekonom UGM, Eddy Junarsin, menambahkan komitmen perdagangan Indonesia dan AS juga memiliki dimensi strategis yang lebih luas, terutama dalam menjaga hubungan bilateral dan posisi Indonesia di tengah persaingan global.
“Indonesia ingin tetap menjadi negara yang independen dan netral dalam konteks persaingan pengaruh global. Konstelasi ekonomi tidak bisa dipisahkan dari politik, sosial, teknologi, lingkungan, dan hukum internasional,” ujarnya.
/2025/01/14/1692653614.jpg)
/2025/04/21/1968679424.jpg)
/2025/11/04/270124776.jpg)
/2025/06/06/1462733630.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5506843/original/098367400_1771477875-1000239810.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5506813/original/087354100_1771476618-WhatsApp_Image_2026-02-18_at_17.48.43.jpeg)

/2025/03/18/1464031863.jpg)
/2025/01/01/100000931.jpg)




:strip_icc()/kly-media-production/medias/2818901/original/014369400_1559118553-20190529-Hotel-Kucing-2.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/4184395/original/026585700_1665141029-FOTO.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/2833304/original/055774200_1561020095-20190619-BI-Tahan-Suku-Bunga-Acuan-6-Persen6.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/4721215/original/050847100_1705711212-fotor-ai-2024012073921.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5484823/original/081967800_1769486359-1000027262.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5383135/original/032012200_1760622391-IMG_8063.jpeg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/716848/original/Sidak-PNS-140804.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5467325/original/053844600_1767872285-4.jpg)