Jakarta – Jumlah perusahaan Jepang yang meninggalkan China mencetak rekor. Perlambatan ekonomi, memburuknya hubungan diplomatik kedua negara memaksa pengusaha Negeri Matahari Terbit untuk mengevaluasi kembali bisnisnya di negara dengan perekonomian terbesar kedua di dunia tersebut.
Melansir laman CNBC, Senin (5/10/2026), jumlah perusahaan Jepang yang beroperasi di China turun ke titik terendah sepanjang sejarah.
BACA JUGA:Cerita Unik PM Jepang Saat Temukan Kecoak di Kediamannya
BACA JUGA:Jepang Sanksi Bursa Kripto Rusia Garantex
Menurut Teikoku Databank, sebuah perusahaan riset kredit korporasi di Jepang, jumlah perusahaan Jepang yang beroperasi di Tiongkok turun ke titik terendah sepanjang sejarah, yakni menjadi 10.118 perusahaan per Juni.
Angka tersebut turun 22% dibandingkan survei sebelumnya yang dilakukan pada Juni 2024, dan sekitar 30% lebih rendah dibandingkan puncaknya pada 2012. Jumlah ini juga merupakan yang terendah sejak Teikoku mulai mencatat data tersebut pada 2010.
Jeremy Chan, Analis Perusahaan Konsultan Politik Eurasia Group, mengungkapkan, perusahaan-perusahaan Jepang, yang sebelumnya memang sudah berencana mengurangi kehadiran di China, kini mempertimbangkan untuk menarik diri sepenuhnya dari pasar tersebut. Ini menjadi urgensi yang lebih besar sejak hubungan Tiongkok-Jepang memburuk tajam, kata dia.
Laporan Teikoku menyebut, eksodus tersebut kemungkinan akan semakin intensif. Perselisihan diplomatik antara dua negara dengan perekonomian terbesar di Asia memaksa perusahaan-perusahaan Jepang, yang sudah menghadapi penurunan profitabilitas akibat risiko tarif, meningkatnya biaya tenaga kerja dan produksi, serta persaingan lokal yang sangat ketat untuk mengecilkan skala atau menghentikan operasi di Tiongkok.
Hubungan Tiongkok-Jepang mengalami tekanan berat sejak Perdana Menteri Sanae Takaichi mengatakan kepada parlemen pada November tahun lalu bahwa Jepang dapat terlibat secara militer jika terjadi invasi Tiongkok ke Taiwan.
Beijing merespons dengan membatasi ekspor mineral-mineral penting kepada perusahaan-perusahaan Jepang dan mengimbau warganya untuk tidak bepergian ke Jepang.
/2023/11/02/585482236.jpg)
/2019/11/18/1319648998.jpg)
/2025/09/29/255160793.jpg)
/2023/07/12/46205755.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5459767/original/052734300_1767173469-publikasi_1767166092_6954d08c6d721.jpeg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/922189/original/061254600_1436330199-tol-3.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4740422/original/078699100_1707701814-fotor-ai-2024021283356.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4410597/original/021067700_1682846409-jievani-weerasinghe-NHRM1u4GD_A-unsplash.jpg)




:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9349514/original/042048300_1789531576-ChatGPT_Image_Sep_16__2026__11_05_46_AM.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4156440/original/071550200_1663062669-Emas4.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4013693/original/013633000_1651632346-000_329D9VG.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3975039/original/078300400_1648205647-20220325-Harga-emas-pegadaian-naik-ANGGA-4.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4816486/original/000456500_1714383664-fotor-ai-20240429133814.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4816484/original/039630500_1714383627-fotor-ai-2024042913407.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4816483/original/040342400_1714383611-fotor-ai-20240429134010.jpg)