Jakarta – Hubungan dagang antara Amerika Serikat dan Eropa kembali memanas. Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump meski baru saja menarik ancaman pengenaan bea masuk terhadap negara-negara Eropa, para pemimpin bisnis di Benua Biru tidak tinggal diam. Mereka kini mulai menyuarakan kemungkinan aksi balas dendam terhadap apa yang mereka sebut sebagai pemerasan ekonomi.
Uni Eropa sempat membekukan kesepakatan dagang dengan AS sebagai respons atas rencana Trump memberlakukan tarif 10% pada enam negara anggota Uni Eropa, ditambah Inggris dan Norwegia. Meski Trump akhirnya menarik kembali pada Rabu malam.
BACA JUGA:Daftar Ketakutan yang Menghantui Miliarder pada 2026, Ini Terbesar
BACA JUGA:Kinerja IHSG Tumbuh 20% pada 2025, Ini Penopangnya
BACA JUGA:Perjanjian Tarif Mundur, Airlangga Pastikan Tak Ada Ancaman Kenaikan Tarif Dagang dari AS
Gunakan \’Senjata Pamungkas\’ ACI
Para pelaku usaha kini mendesak Uni Eropa untuk meninjau kembali penggunaan Anti Coercion Instrument (ACI). Ini adalah instrumen pertahanan yang memungkinkan mereka menjatuhkan sanksi perdagangan luas sebagai serangan balik atas tekanan ekonomi dari negara lain.
Semua instrumen pertahanan perdagangan Uni Eropa, termasuk ACI, sekarang harus ditinjau ulang, tegas Volker Treier, Kepala Eksekutif Perdagangan Luar Negeri di Kamar Dagang dan Industri Jerman (DIHK), dikutip dari CNBC, Selasa (27/1/2026).
Senada dengan itu, Presiden asosiasi sektor industri Jerman VDMA, Bertram Kawlath, memperingatkan agar Eropa tidak goyah hanya karena gertakan tarif, terutama terkait isu politik sensitif seperti Greenland.
Eropa tidak boleh membiarkan dirinya diperas. Jika Uni Eropa menyerah, itu hanya akan mendorong tuntutan menggelikan berikutnya dari Presiden AS, ujar Kawlath.
/2023/11/14/265599980.jpg)
/2023/02/06/1670990717.jpg)
/2025/09/02/1934936574.jpg)
/2025/12/08/659294977.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5485579/original/020218600_1769513523-Konferensi_Pers_Hasil_Rapat_Berkala_KSSK_I_Tahun_2026-27_Januari_2026.jpeg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/2793619/original/013488900_1556718746-Kembang-Api-Buruh4.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/3457615/original/088329700_1621231850-FOTO_001.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5330454/original/029687200_1756361195-IMG_1809.jpg)
/2025/11/09/1135046162.jpg)




:strip_icc()/kly-media-production/medias/5486677/original/085045300_1769595276-WhatsApp_Image_2026-01-28_at_16.13.24.jpeg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5486550/original/072648900_1769590191-Deputi_Gubernur_Bank_Indonesia_terpilih_Thomas_Djiwandono-_28_Januari_2026a.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5129438/original/034681000_1739288405-BI_10.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5484915/original/056960900_1769488796-WhatsApp_Image_2026-01-27_at_10.56.47.jpeg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5472366/original/098607300_1768363991-Menteri_Keuangan_Purbaya_Yudhi_Sadewa-14_Januari_2026.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/4477896/original/072602400_1687478218-Miliarder_atau_Orang_Terkaya_Dunia.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/4881569/original/094570800_1719967258-fotor-ai-2024070373820.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5485687/original/071253500_1769524080-1756f35c-ee91-4c96-861f-adbd26f34d5c.jpeg)