Jakarta – Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) turut berdampak pada harga sapi perah maupun susu impor dari luar negeri. Meskipun, kenaikannya tidak langsung dibebankan kepada konsumen.
Deputi Bidang Koordinasi Usaha Pangan dan Pertanian, Kementerian Koordinator Bidang Pangan, Widyastuti mengamini, ada dampak pelemahan rupiah terhadap bahan baku susu impor. Mengingat lagi 80 persen kebutuhan susu nasional dipasok dari impor.
BACA JUGA:Riset: Telat Balas Chat 5 Menit, Bisnis Online Bisa Kehilangan Separuh Konsumen
BACA JUGA:Konsumen Perhitungkan Value Produk, Brand Perlu Susun Strategi Baru
BACA JUGA:Preferensi Konsumen Memilih Produk Berubah, Brand Perception Jadi Hal Mutlak
Ada pengaruh? Jelas pasti ada. Karena di sini terlihat memang susu ini banyak pemanfaatannya yang harus kita tingkatkan untuk ketahanan tangan, dalam hal ini untuk gizi dan lainnya, ucap Widyastuti dalam konferensi pers Hari Susu Nusantara, di Kantor Kemenko Pangan, Jakarta, Selasa (2/6/2026).
Kenaikan juga terjadi pada harga sapi perah impor. Direktur Hilirisasi Hasil Peternakan, Kementerian Pertanian, Makmun mengamini ada kenaikan harga sapi perah yang diimpor ke Indonesia. Dua negara asal pemasok sapi perah yakni Australia dan Selandia Baru.
Umumnya kita ngambilnya dari Australia, umumnya teman-teman ini walaupun negara seperti New Zealand juga, beberapa negara yang lain, kita tidak ada masalah. Karena mungkin posisinya deket, dan dengan kenaikan dolar, qda kenaikan dari harga sapinya, kata Makmun.
Informasi, nilai tukar rupiah telah mencapai Rp 17.800 per dolar AS. Makmun mengaku, belum menghitung dampak ke harga sapi perah impor terbaru. Hanya saja, sebagai gambarannya, Makmun menyebut harga sapi perah impor masih di bawah Rp 50 juta per ekor.
Kemarin rata-rata teman-teman mengimpor harga sekitar Rp 45 juta per ekornya sapi perah bunting. Tahun ini tidak juga sampai di Rp 50 juta, ada kenaikan, tapi tidak terlalu jauh juga dari kondisi yang ada, beber dia.




:strip_icc()/kly-media-production/medias/7600087/original/090610100_1780383718-IMG_4646.jpeg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/4881568/original/087545300_1719967244-fotor-ai-2024070373816.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5579569/original/092261100_1778057170-Menteri_Keuangan__Menkeu__Purbaya_Yudhi_Sadewa-6_Mei_2026b.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/4881569/original/094570800_1719967258-fotor-ai-2024070373820.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5499743/original/037880100_1770793941-IMG-20260211-WA0006.jpg)




:strip_icc()/kly-media-production/medias/4803210/original/041541900_1713259102-20240416-Pelemahan_Mata_Uang_Rupiah-MER_1.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/2439239/original/004031600_1542966203-20181123-Nilai-Tukar-Rupiah-Menguat-Atas-Dolar-Angga2.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/1745869/original/075005800_1508495004-20171020-Rupiah-Menguat-Tipis-atas-Dolar-Angga-1.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/7600084/original/087151500_1780383670-IMG_4639.jpeg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5027992/original/041439300_1732861105-fotor-ai-2024112913176.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/4410597/original/021067700_1682846409-jievani-weerasinghe-NHRM1u4GD_A-unsplash.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/4983415/original/005222400_1730112240-fotor-ai-20241028174255.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/4762386/original/063474700_1709622795-fotor-ai-20240305141114.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/4816485/original/067351800_1714383642-fotor-ai-20240429133817.jpg)