Jakarta – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengingatkan investor agar tidak terjebak fenomena fear of missing out (FOMO) di tengah pesatnya pertumbuhan pasar modal syariah Indonesia. Regulator menilai lonjakan minat investor, khususnya dari kalangan muda dan ritel muslim, perlu diimbangi dengan pemahaman investasi yang matang agar tidak memicu perilaku spekulatif berlebihan.
Fenomena FOMO, atau rasa takut ketinggalan, keputusan investasi yang didorong oleh tren, perilaku spekulatif, dan konsentrasi pada saham-saham tertentu yang sangat fluktuatif memerlukan perhatian bersama kita,” kata Kepala Departemen Pengaturan dan Pengembangan Pasar Modal Keuangan Derivatif dan Bursa Karbon OJK, Henry Rialdi, dalam acara Elevate: IFN Indonesia Forum dan Sharia Investment Week (SIW) 2026, di Main Hall BEI, Jakarta, ditulis Kamis (21/5/2026).
BACA JUGA:Revisi Aturan Bakal Genjot Nilai Transaksi Bursa Karbon
BACA JUGA:Tata Kelola Perdagangan Unit Karbon Asing di Bursa Karbon Diperketat
BACA JUGA:Aset Bank Pembangunan Daerah Tembus Rp 1.036 Triliun
BACA JUGA:Pasar Modal Syariah: Potensi Raksasa tapi Literasi Minim
Ia mengatakan, tingginya antusiasme terhadap investasi syariah memang menjadi sinyal positif bagi perkembangan industri keuangan nasional. Namun di sisi lain, kondisi tersebut juga menghadirkan tantangan baru.
OJK mengamati bahwa meningkatnya antusiasme di kalangan investor, khususnya investor muda dan investor ritel Muslim, juga menghadirkan tantangan baru,” ujarnya.
Menurut dia, OJK tidak ingin pertumbuhan pasar modal syariah yang tinggi justru memunculkan gelembung aset atau bubble akibat investor melakukan pembelian tanpa pemahaman risiko yang memadai.
“Kita tidak ingin pertumbuhan tinggi menciptakan gelembung aset, mentalitas kawanan, atau pengambilan risiko tanpa pemahaman penuh,” ujar dia.
Investor Syariah Melonjak Tajam
Peringatan OJK tersebut muncul seiring melonjaknya jumlah investor dan transaksi di pasar modal syariah dalam beberapa tahun terakhir. Hingga Maret 2026, jumlah investor pemilik efek syariah telah melampaui empat juta investor atau tumbuh 35,25% secara tahunan.
Partisipasi investor juga menunjukkan pertumbuhan yang sangat kuat. Hingga Maret 2026, kepemilikan Sekuritas Syariah telah melampaui empat juta investor, mewakili peningkatan sebesar 35,25% secara tahunan,” ujarnya.




:strip_icc()/kly-media-production/medias/5431967/original/043943100_1764752062-IMG_2632.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4164856/original/091915700_1663664765-petanikapas5.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1559582/original/044764500_1491540844-20170406-Bertemu-di-Florida_-Donald-Trump-dan-Xi-Jinping-Saling-Lempar-Senyum-AP-9.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5562960/original/079664900_1776843665-IMG-20260422-WA0002.jpg)





:strip_icc()/kly-media-production/medias/6469874/original/030292000_1779331456-Kepala_BP_BUMN__Dony_Oskaria-21_Mei_2026b.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/4881568/original/087545300_1719967244-fotor-ai-2024070373816.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/6474215/original/025688900_1779335126-IMG_4484.jpeg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/6403103/original/019882400_1779276616-WhatsApp_Image_2026-05-20_at_18.02.03__1_.jpeg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5103467/original/057047800_1737457741-20250121-Jaga_Inflasi-ANG_3.jpg)