Jakarta – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai industri perbankan Indonesia masih solid dalam menghadapi potensi dampak gejolak pasar modal terkait Morgan Stanley Capital International (MSCI). Ketahanan ini ditopang oleh rasio keuangan dan likuiditas yang tetap terjaga dengan baik.
Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae, mengatakan OJK masih menganalisis dampak perkembangan MSCI terhadap sektor keuangan. OJK juga siap berkoordinasi dengan Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) apabila gejolak tersebut menimbulkan dampak yang serius.
BACA JUGA:Bos OJK Lapor Prabowo, Lanjutkan Reformasi Pasar Modal Indonesia
BACA JUGA:AEI: Evaluasi MSCI Jadi Momentum Pembenahan Pasar Modal Indonesia
BACA JUGA:OJK Imbau Industri Asuransi Perhatikan Manajemen Risiko
“Kalau dilihat dari ketahanan sistem keuangan kita, saya masih percaya 100 persen bahwa situasinya berbeda sekali dengan situasi pada saat-saat dulu,” ujar Dian usai Musyawarah Nasional Perbarindo Ke-XII di Jakarta, Senin (19/10/2026).
Dian menjelaskan, berbagai indikator kesehatan perbankan—termasuk rasio kecukupan modal (Capital Adequacy Ratio/CAR) dan likuiditas—masih menunjukkan kondisi yang kuat. Menurutnya, ketahanan tersebut menjadi penopang utama stabilitas sistem keuangan nasional di tengah gejolak pasar.
Lebih lanjut, Dian menambahkan bahwa sekitar 80 persen pembiayaan perekonomian Indonesia bersumber dari perbankan. Oleh karena itu, menjaga stabilitas industri perbankan menjadi faktor krusial demi menjamin keberlangsungan pembiayaan serta aktivitas ekonomi nasional.
“Kita sekarang bisa dikatakan perbankan kita masih sangat solid dalam semua rasio keuangan,” kata Dian.
OJK menegaskan akan terus menganalisis perkembangan pasar dan dampaknya terhadap sektor keuangan secara holistik. Sementara itu, pembahasan mengenai implikasi yang lebih luas akan melibatkan seluruh anggota KSSK sesuai dengan kebutuhan.
/2026/08/03/1887649803.jpg)
/2023/04/27/1632366693.jpg)
/2026/02/18/1346664671.jpg)
/2026/08/28/1217435868.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9376021/original/073491200_1792294039-Untitled.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3532281/original/068580000_1628161372-20210805-Harga-emas-alami-penurunan-ANGGA-2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4594243/original/089058400_1696137886-andre-francois-mckenzie-iGYiBhdNTpE-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/liputan6/watermark-gray-landscape-new.png,45,645,0)/kly-media-production/medias/4856444/original/021606300_1717750001-20240512_102627.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4282588/original/045207500_1672910856-Imbas_potensi_perlambatan_ekonomi_nilai_rupiah_melemah_terhadap_dollar-ANGGA_7.jpg)




:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5472770/original/094808400_1768375318-5.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3352147/original/086289000_1610959706-20210118-Emas-Antam-1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3975039/original/078300400_1648205647-20220325-Harga-emas-pegadaian-naik-ANGGA-4.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/2358749/original/070880200_1536904477-afpprison.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4876282/original/004384100_1719462261-fotor-ai-2024062711133.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5302021/original/032085300_1753969488-Gemini_Generated_Image_jtk1w2jtk1w2jtk1.jpg)