Jakarta – Dense heavy crude (minyak mentah padat dan berat), yang diminati kilang minyak seluruh dunia akibat harganya yang murah, kini menumpuk di Benua Amerika, lantaran biaya pengiriman telah menekan ekspor. Selain itu, kilang minyak di AS juga telah mendekati batasan kapasitasnya.
Melansir CNA, Selasa (13/10/2026), penumpukan pasokan di Amerika Utara dan Selatan telah membelah dua pasar minyak global, karena pembeli di Asia dan Eropa kelimpungan mencari pasokan. Menambah tekanan tersebut, harga acuan kini melampaui US$ 100, atau Rp 1,79 juta (asumsi kurs dolar AS terhadap rupiah di kisaran 17.920) per barel.
BACA JUGA:Miliarder India Jadi Pembeli Terbesar Minyak Venezuela
BACA JUGA:World Bank Prediksi Pertumbuhan Ekonomi Negara Teluk 10,3%, Ini Pemicunya
BACA JUGA:Ukraina Serang Rusia dengan Lebih dari 1.000 Drone
Minyak mentah padat dan berat merupakan tipe minyak yang biasanya bisa diproses oleh kilang minyak Asia, AS, dan Eropa. Harganya juga lebih murah dari minyak mentah ringan, sehingga kilang minyak bisa mendapat margin lebih baik saat biaya pengirimannya murah.
Seorang pakar energi di TP ICAP, Scott Shelton, berpendapat titik masalahnya adalah biaya pengiriman. Dia mengatakan, Venezuela, AS, dan Kanada memproduksi lebih banyak minyak dari jumlah konsumsi, jadi ekspor ke Asia dapat menyeimbangkan pasar minyak.
Dengan melonjaknya harga solar di AS, barel-barel minyak yang tertahan seharusnya laris manis di pasar yang kekurangan diesel, karena minyak mentah berat menghasilkan lebih banyak diesel dibandingkan dengan jenis minyak mentah yang lebih ringan. Namun, menurut para analis dan pedagang, kilang-kilang di Pantai Teluk telah membeli sebanyak yang mampu mereka olah.
Di sisi lain, ekspor dari Venezuela meningkat sejak AS menangkap mantan presiden Nicolas Maduro pada Januari, lalu mendorong pembangunan ulang sektor minyak negara tersebut. Selain itu, arus keluar Kanada mencapai rekor dan Washington sudah melepas lebih dari 130 barel dari pasokan daruratnya.
/2025/02/17/71934753.jpg)
/2026/06/04/605781479.jpg)
/2025/10/27/64741537.jpg)
/2022/08/03/1972868173.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9372561/original/055917500_1791883439-WhatsApp_Image_2026-10-13_at_16.02.01.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5230612/original/050320000_1748000406-IMG-20250523-WA0007.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5002630/original/007588900_1731407780-22.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4723188/original/034031500_1705921925-fotor-ai-20240122181144.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4383851/original/077849900_1680667414-20230405-Sidang-Donald-Trump-AP-1.jpg)




:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3149803/original/032801800_1591853666-20200611-Harga-Emas-Antam-Naik-ANGGA-5.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3172730/original/061289100_1594117388-20200707-Harga-Emas-Pegadaian-Naik-Rp-4.000-5.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3271752/original/024896400_1603102550-20201019-Harga-Emas-Hari-Ini-Stabil-2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4816480/original/079795300_1714383491-fotor-ai-2024042913369.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4816484/original/039630500_1714383627-fotor-ai-2024042913407.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4816485/original/067351800_1714383642-fotor-ai-20240429133817.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3932277/original/005220300_1644714392-13_februari_2022-1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4740422/original/078699100_1707701814-fotor-ai-2024021283356.jpg)