Jakarta – Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan mengungkapkan, jaringan internasional DEN dengan China dan Amerika Serikat (AS) terus diperkuat demi mendukung kepentingan ekonomi strategis Indonesia, termasuk pengembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).
Luhut menegaskan, DEN membangun komunikasi dengan mitra strategis di Beijing dan Washington secara bersamaan. Langkah ini diambil karena Indonesia memiliki kepentingan besar untuk menjaga hubungan baik dengan berbagai kekuatan ekonomi dunia.
BACA JUGA:Luhut Bicara Hubungannya Kini dengan Jokowi, Sebut Sosok Patut Dicontoh
BACA JUGA:Pesan Luhut untuk Pemimpin: Harus Mau Mendengar, Jangan Merasa Paling Benar
Kita hubungan dengan Amerika bagus, tapi dalam waktu bersamaan hubungan kita dengan Tiongkok juga bagus, ujar Luhut dalam perayaan 25 tahun Yayasan Del di Sopo Del Tower, Jakarta, Senin (28/9/2026).
Bahas Sovereign AI dan Jaringan Internasional
Luhut menceritakan, DEN telah bertemu dengan Dewan Ekonomi China di Beijing untuk membahas sejumlah agenda yang dapat ditindaklanjuti kedua negara. Menurutnya, kerja sama tersebut berjalan lancar berkat jaringan pertemanan yang kuat dengan sejumlah pejabat tinggi China.
Salah satu agenda utama yang dibahas adalah pengembangan AI dan sovereign AI. Luhut menilai pengembangan teknologi strategis semacam ini membutuhkan proses panjang serta fondasi kepercayaan antarnegara.
Tadi malam kami bicara misalnya bagaimana pengembangan AI, sovereign AI. Tidak pernah terbayangkan itu. Itu kan tidak bisa dibangun satu hari, itu butuh trust, kata Luhut.
Di sisi lain, DEN juga menjalin hubungan erat dengan lembaga serta jaringan kajian strategis di Washington. Keterbukaan mengenai hubungan bilateral Indonesia dengan China maupun AS menjadi bagian dari pendekatan diplomasinya.
Saya tidak pernah berbohong kepada pihak Tiongkok bahwa saya punya hubungan sangat baik [dengan AS]. Dan saya juga tidak pernah berbohong kepada Washington bahwa saya punya hubungan yang sangat baik dengan Beijing, jelasnya.
Ia menegaskan, Indonesia harus tetap mempertahankan posisi bebas aktif (non-aligned). Menurutnya, skala dan kepentingan nasional Indonesia yang besar membuat negara ini tidak perlu berpihak pada salah satu blok kekuatan dunia.
Kami kan harus fight. Dan kami memang non-aligned. Tidak ada yang salah dengan hal itu, kita negara yang terlalu besar untuk berpihak, tegas Luhut.
/2026/05/21/1815365879.jpg)
/2025/12/12/1277718059.jpg)
/2025/11/03/156111305.jpg)
/2023/11/20/1596168069.jpg)
:strip_icc():format(webp):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/liputan6/watermark-gray-landscape-new.png,1180,20,0)/kly-media-production/medias/1223093/original/001717500_1462280591-20160503-Pasar--Inflasi-Masih-Terkendali-Hingga-Juni-Jakarta-Angga-Yuniar-01.jpg)








:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4208763/original/090133300_1667177338-publikasi_1667133757_635e713ded028.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5488493/original/037865300_1769753942-Untitled.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9359460/original/044862100_1790524908-Menteri_Ketenagakerjaan_Yassierli-27_September_2026a.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5702050/original/004842100_1778582833-2.jpg)