Sydney Anggota Dewan Institut Australia–Indonesia, Rob Law, mengatakan hubungan perdagangan Indonesia – Australia masih mengalami hambatan dari segi regulasi. Hal itu menjadi tantangan serius bagi pelaku usaha kedua negara.
Law menjelaskan, bagi bisnis Indonesia, tantangan terbesar muncul dari ketatnya aturan dan sistem hukum Australia.
BACA JUGA:Banyak Investor Baru Masuk Pasar Modal Hanya Terbawa Euforia
BACA JUGA:Investasi Manufaktur Indonesia Makin Dilirik
BACA JUGA:Changpeng Zhao Janji Investasi Lagi Jika Denda Binance Dikembalikan AS
Ia menyebut, Australia memang dikenal memiliki standar operasi dan persyaratan legal yang detail, jelas, serta wajib diikuti tanpa kompromi. Struktur regulasi yang sangat tertata rapi ini sering kali mengejutkan pelaku usaha Indonesia yang terbiasa dengan dinamika pasar yang lebih fleksibel.
“Ada juga tantangan terkait regulasi Australia. Australia adalah negara dengan sistem hukum yang sangat ketat dan memiliki banyak peraturan,” kata Rob Law dalam media briefing di The Grace Hotel, Sydney, Australia, Senin (18/11/2025).
Selain regulasi, tingginya biaya operasional di Australia turut memperberat langkah ekspansi bisnis Indonesia. Mulai dari biaya tenaga kerja, standar keselamatan, hingga kepatuhan lingkungan, semua menuntut penyesuaian signifikan dari perusahaan Indonesia.
Alhasil banyak pelaku usaha Indonesia yang akhirnya ragu untuk masuk ke pasar Australia, karena persepsi bahwa biaya yang harus dikeluarkan tidak sebanding dengan potensi keuntungan jangka pendek.
“Bagi bisnis Indonesia yang ingin masuk ke Australia, mereka menghadapi beberapa hambatan. Secara khusus, tingginya biaya operasional di Australia menjadi tantangan besar bagi bisnis Indonesia,” ujarnya.
/2025/09/17/1992289456.jpg)
/2025/10/03/437355831.jpg)
/2025/09/18/1600673805.jpg)
/2025/04/21/1234404100.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/4834870/original/064470600_1715933837-Kontribusi_UMKM_bantu_penyerapan_tenaga_kerja-ANGGA_4.jpg)



:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3526380/original/094130000_1627643051-096775200_1587124782-IMG-20200417-WA0032.jpg)




:strip_icc()/kly-media-production/medias/5457831/original/061087900_1767059706-04b2abd5-8e52-4017-9f04-51667654d0cd.jpeg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/3181747/original/031242800_1594892569-20200716-Rupiah-4.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/3545720/original/056823400_1629425275-059440700_1560940276-20190619-Rupiah-Menguat-di-Level-Rp14.264-per-Dolar-AS1.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/2849793/original/011745700_1562754395-20190710-Rupiah-Stagnan-Terhadap-Dolar-AS6.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/4013695/original/083702900_1651632388-000_329D9V2.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/976573/original/043185800_1441279137-harga-emas-5.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/2890385/original/036007700_1566535931-20190823-Harga-Emas-Antam-Turun-Rp-4.000-per-Gram5.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/976572/original/043059500_1441279137-harga-emas-4.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/2375574/original/030742400_1538739776-20181005-Emas-Antam-5.jpg)