Jakarta – Ketidakpastian pasokan dan mahalnya harga gas industri mengancam keberlangsungan industri manufaktur nasional. Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia (ASAKI) mencatat sekitar 1.500 pekerja terdampak, sementara rencana ekspansi industri keramik senilai Rp 12 triliun terancam tertunda.
Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia mendesak pemerintah segera membenahi distribusi dan harga gas bumi agar pelaku industri dapat mempertahankan produksi, daya saing, dan penyerapan tenaga kerja.
BACA JUGA:Pengusaha Cemas PHK Mengintai Jika Pasokan Gas Industri Tak Pasti
BACA JUGA:Industri Was-Was, Harga Gas Bisa Tembus USD 20 per MMBTU
“Hal terpenting bukan hanya menarik investor baru, melainkan juga merawat industri yang sudah beroperasi di dalam negeri,” ujar Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bidang Perindustrian Saleh Husin di Jakarta, Selasa (13/10/2026).
Saleh menilai persoalan pasokan dan harga gas telah berlangsung selama bertahun-tahun tanpa penyelesaian menyeluruh. Ia meminta pemerintah mengevaluasi prioritas pemanfaatan gas nasional, termasuk mempertimbangkan pemenuhan kebutuhan domestik dari sebagian volume ekspor dengan tetap memperhitungkan kontrak dan regulasi.
Ketua ASAKI Edy Suyanto mengatakan, pembatasan pasokan gas kembali menekan industri keramik sejak pertengahan September 2026. Padahal, industri sebelumnya berharap Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Nomor 281.K/2026 dapat memberikan kepastian pasokan dan harga.
“Regulasi Kepmen ESDM 281.K/2026 sudah baik, tetapi implementasinya tidak berjalan sesuai harapan,” tegas Edy.
ASAKI memperkirakan harga gas rata-rata dapat mencapai US$ 8–8,5 per MMBTU melalui kombinasi skema Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT) dan biaya regasifikasi gas alam cair (LNG).
Namun, keterbatasan akses gas berskema HGBT yang hanya mencakup sekitar 40% kebutuhan membuat harga rata-rata gas industri di Jawa bagian barat mencapai US$ 12 per MMBTU dan di wilayah timur sekitar US$ 9 per MMBTU.
/2025/04/15/1380802889.jpg)
/2024/10/24/1148559830.jpg)
/2026/04/18/1486686292.jpg)
/2023/12/17/1380818961.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4066834/original/034753100_1656461868-Harga_Minyak_AFP.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4723188/original/034031500_1705921925-fotor-ai-20240122181144.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5002630/original/007588900_1731407780-22.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9372680/original/084137500_1791886721-WhatsApp_Image_2026-10-12_at_16.01.18.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3172730/original/061289100_1594117388-20200707-Harga-Emas-Pegadaian-Naik-Rp-4.000-5.jpg)




:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9372662/original/075629000_1791886198-WhatsApp_Image_2026-10-13_at_17.04.11__1_.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9372866/original/085182200_1791898517-email-attachment_2026_10_13_ardiansyah-putra_bukan-cuma-batu-bara-kai-angkut-296-ribu-ton-semen-dan-bbm-di-lampung_1001758121.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9372599/original/079090800_1791884421-email-attachment_2026_10_13_ariefhakim-at-klyid_wamenkeu-klaim-coretax-bikin-basis-pajak-naik-2-juta_1000471513.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/2269517/original/068433600_1530766531-Warga-Uruguay2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9368403/original/086776600_1791433026-email-attachment_2026_10_08_ariefhakim-at-klyid_menkeu-suahasil-fiskal-dan-danantara-saudara-kembar_1000466330.jpg)