Jakarta – Saya pekerja di Jakarta. Saya gajian tangal 25 setiap bulan tetapi penghasilan saya sebagian besar sudah langsung habis pada tanggal 1 bulan berikutnya atau selalu habis dalam 1 minggu.
Begitu gaji masuk, uang langsung terpakai untuk membayar cicilan KPR, listrik, air, transportasi, dan kebutuhan keluarga. Saya tidak memiliki utang lain di luar KPR. Setelah semua kewajiban dibayar, uang yang tersisa hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari sampai gajian berikutnya.
BACA JUGA:Konsultasi Keuangan: Gaji Rp 6,5 Juta Habis Terus, Salah Gaya Hidup?
BACA JUGA:Hubungan Inggris-Israel Memanas, Ancam Tutup Konsulat hingga Usir Diplomat
BACA JUGA:Sembelit Bikin Tak Nyaman? Coba 5 Makanan Ini Supaya BAB Lancar
Saya sudah berusaha berhemat, mulai dari membawa bekal ke kantor, mengurangi jajan, hingga membatasi pengeluaran yang tidak mendesak. Namun, harga kebutuhan pokok terus meningkat, sementara penghasilan saya relatif tidak berubah. Akibatnya, saya tidak memiliki tabungan maupun dana darurat. Jika ada kebutuhan mendadak, saya terpaksa meminjam uang kepada teman atau saudara, lalu melunasinya ketika gajian.
Dalam kondisi seperti ini, bagaimana cara mengatur keuangan secara realistis ketika sebagian besar gaji sudah habis untuk kebutuhan wajib? Apakah saya tetap harus memaksakan diri menyisihkan uang untuk tabungan meski kebutuhan bulanan belum sepenuhnya terpenuhi?
Bagaimana menentukan prioritas antara membayar tagihan, melunasi utang, memenuhi kebutuhan sehari-hari, dan membangun dana darurat? Jika pengeluaran sudah sangat terbatas dan tidak banyak lagi yang bisa dipangkas, kapan saya harus mulai mempertimbangkan mencari penghasilan tambahan atau mengubah struktur pengeluaran secara lebih mendasar?
Mohon bantuannya. Terima kasih.
Pengirim: Pembaca www.wmhg.org
Jawaban:
1. Bagaimana cara mengatur keuangan ketika sebagian besar gaji sudah habis untuk kebutuhan wajib?
Hal pertama yang perlu dipahami adalah tidak semua masalah keuangan terjadi karena seseorang boros. Ada juga orang yang sudah sangat berhemat, tetapi penghasilannya memang tidak lagi cukup untuk menutup biaya hidup.
Apalagi bagi pekerja di Jakarta yang harus menanggung cicilan rumah, transportasi, listrik, kebutuhan makan, dan biaya keluarga.
Kalau gaji masuk tanggal 25, tetapi tanggal 1 sudah hampir habis, kita perlu melihat apakah uang tersebut benar-benar habis untuk kebutuhan satu bulan atau sebenarnya sudah dialokasikan untuk membayar berbagai kewajiban.
Karena dua kondisi ini berbeda.
Kalau uang sudah dialokasikan untuk kebutuhan sampai gajian berikutnya, sebenarnya belum tentu bermasalah. Tetapi kalau uang yang tersisa tidak cukup untuk bertahan sampai tanggal 25 berikutnya, berarti ada ketidakseimbangan antara pendapatan dan pengeluaran.
Langkah pertama yang saya sarankan adalah melakukan evaluasi arus kas selama tiga bulan terakhir.
Pisahkan pengeluaran menjadi tiga kelompok:
- Pengeluaran wajib: Cicilan KPR, listrik, air, transportasi kerja, makan, pendidikan anak, dan kebutuhan pokok keluarga.
- Pengeluaran yang masih bisa disesuaikan: Paket internet, langganan digital, pilihan transportasi, belanja rumah tangga, dan pengeluaran sosial.
- Pengeluaran tidak rutin: Servis kendaraan, biaya kesehatan, perbaikan rumah, kebutuhan sekolah, dan pengeluaran mendadak lainnya.
Sering kali kita merasa sudah mencatat semua pengeluaran, padahal masih ada biaya tidak rutin yang luput diperhitungkan.
Tujuan membuat anggaran bukan sekadar mencari pengeluaran yang bisa dipotong, tetapi mengetahui apakah penghasilan kita masih mampu membiayai kehidupan yang sedang dijalani.
/2026/08/03/1887649803.jpg)
/2023/04/27/1632366693.jpg)
/2026/02/18/1346664671.jpg)
/2026/08/28/1217435868.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9372554/original/041295500_1791882935-1260546.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9375537/original/049333800_1792153756-Citi_Logo_Ambiance.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5549940/original/054686000_1775633627-Menteri_LH_Properr.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1554701/original/067388600_1491198222-lotte.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4594243/original/089058400_1696137886-andre-francois-mckenzie-iGYiBhdNTpE-unsplash.jpg)




:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5472770/original/094808400_1768375318-5.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3352147/original/086289000_1610959706-20210118-Emas-Antam-1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3975039/original/078300400_1648205647-20220325-Harga-emas-pegadaian-naik-ANGGA-4.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3532281/original/068580000_1628161372-20210805-Harga-emas-alami-penurunan-ANGGA-2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/2358749/original/070880200_1536904477-afpprison.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4876282/original/004384100_1719462261-fotor-ai-2024062711133.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5302021/original/032085300_1753969488-Gemini_Generated_Image_jtk1w2jtk1w2jtk1.jpg)
:strip_icc():format(webp):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/liputan6/watermark-gray-landscape-new.png,45,645,0)/kly-media-production/medias/4856444/original/021606300_1717750001-20240512_102627.jpg)