Jakarta – Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mengamankan 1.048 ton udang impor yang diduga melanggar aturan lantaran beredar di pasar lokal Jawa Timur. Padahal, udang-udang tersebut dimasukkan melalui Kawasan Berikat dan seharusnya diolah untuk diekspor kembali.
Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono menyampaikan, langkah pengawasan ketat ini berhasil menyelamatkan potensi kerugian negara mencapai Rp 405,8 miliar.
BACA JUGA:KKP Bidik Modernisasi 950 Kapal Ikan pada 2027, Ini Tujuannya
BACA JUGA:Tak Mau Bau, Menteri Trenggono Mulai Pugar Pelabuhan Perikanan Kejawanan
BACA JUGA:Tembus Rp 10 Triliun, Ini Rincian Biaya Kampung Nelayan Merah Putih
Kami tidak akan membiarkan udang impor yang seharusnya untuk kebutuhan ekspor justru masuk ke pasar lokal. Jika ditemukan pelanggaran, kami akan melakukan tindakan tegas sesuai ketentuan, tegas Trenggono dalam keterangan resminya, Selasa (22/9/2026).
Sementara itu, Direktur Jenderal Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (PSDKP), Pung Nugroho Saksono, mengungkapkan udang impor tersebut berasal dari Kanada, Argentina, dan Ekuador.
Pung merinci, pihaknya menyegel 19,16 ton udang pink asal Kanada di Probolinggo dan Pasuruan. Selain itu, petugas juga mengamankan 885,3 ton udang merah asal Argentina serta 144 ton udang vaname asal Ekuador agar tidak makin meluas didistribusikan ke pasar dalam negeri.
Penindakan dilakukan berawal dari adanya keluhan masyarakat. Pengawasan ini juga ditujukan demi melindungi pasar serta pembudidaya udang dalam negeri.
Pengawasan ini penting untuk menjaga iklim usaha yang sehat dan memastikan hasil budidaya udang nasional dapat terserap dengan baik, ujar sosok yang akrab disapa Ipunk ini.
/2025/05/23/885020992.jpg)
/2025/07/27/1310870912.jpg)
/2023/08/22/326576934.jpg)
/2025/09/29/255160793.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5523205/original/092613500_1772794695-1000253144.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/4269838/original/098490100_1671710597-BKI_2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9354433/original/099424600_1790051727-email-attachment_2026_09_22_immanuel-christian_lbea-cukai-tindak-impor-ilegal-beras-dan-garam-serta-balpres-senilai-rp27-miliar_IMG_7249.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9353342/original/073453900_1789961127-IMG_7201.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4805339/original/033825900_1713432001-20240418-Kenaikan_Harga_Emas-HER_1.jpg)




:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9310807/original/088871800_1785371580-Gemini_Generated_Image_hjxpijhjxpijhjxp.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5219629/original/039640900_1747221144-20250514-Harga_Emas-ANG_1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4875742/original/093303000_1719401842-20240626-Rupiah_Melemah-ANG_5.jpg)
:strip_icc():format(webp):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/liputan6/watermark-gray-landscape-new.png,1180,20,0)/kly-media-production/medias/1937644/original/001119200_1519626925-1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4816480/original/079795300_1714383491-fotor-ai-2024042913369.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1937629/original/026426200_1519626771-1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4816486/original/000456500_1714383664-fotor-ai-20240429133814.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5302025/original/025418900_1753969652-Gemini_Generated_Image_pok85upok85upok8.jpg)