Jakarta – Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI, Bobby Rasyidin mengungkap, penyebab KRL tujuan Rangkasbitung kerap penuh sesak. Ternyata, rute tersebut hanya mampu melayani (stamformasi/SF) 8 dan 10 kereta dalam satu rangkaian.
Bobby mencatat, saat ini ada 1,3 juta orang per hari yang menggunakan KRL Jabodetabek. Tingkat okupansi lintas Tanahabang-Rangkasbitung menjadi yang paling padat dengan okupansi puncak 161 persen.
BACA JUGA:Merger KAI dan INKA Rampung Tahun Ini
BACA JUGA:Stasiun Karet Rawan Kecelakaan, Bakal Digabung dengan BNI City
BACA JUGA:KAI Mau Tambah Jumlah KRL Rangkasbitung
Jadi kalau kita lihat yang jalur Rangkasbitung itu sudah peak-nya sudah 161 persen pada jam sibuk. Jadi 161 persen itu kalau kita gambarkan 1 meter persegi itu isinya 8 orang, ungkap Bobby dalam Rapat Dengar Pendapat dengan Komisi VI DPR, Rabu (3/6/2026).
Sebagai perbandingan, puncak okupansi dari lintas Bogor sebesar 130 persen, dan lintas Bekasi/Cikarang sebesar 140 persen. Bisa dibilang, lintas Rangkasbitung menjadi yang terpadat dibandingkan dengan kapasitas angkutnya.
Bobby mengungkapkan, ada beberapa kendala dalam kapasitas angkut di lintas Rangkasbitung tersebut. Salah satu faktornya yakni rangkaian kereta yang digunakan di lintas ini terbatas pada SF8 dan SF10, sementara di Bogor dan Bekasi sudah mampu dilayani dengan 12 kereta dalam satu rangkaian.
Kendala lainnya, daya listrik aliran atas (LAA) lintas Tanahabang-Rangkasbitung ini hanya sebesar 3.000 volt, berbeda dengan daya listrik lintas Bogor dan Bekasi yang mencapai 4.000 volt.
Jadi ke Rangkas ini biasanya itu kereta itu ada SF 8 dan SF 10, SF12 itu enggak bisa Pak, karena kenapa? listriknya enggak cukup, jadi listriknya itu cuma 3.000 (volt). Jadi Bogor itu 4.000, Bekasi 4.000, ke Rangkas itu cuma 3.000, jelas Bobby.




:strip_icc()/kly-media-production/medias/3188320/original/078196100_1595493634-20200723-Usai-Cetak-Rekor_-Harga-Emas-Antam-Kembali-Turun-IQBAL-2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5734668/original/089093400_1778629872-tahun-ini-dahlan-iskan-lebur-dua-bumn-konstruksi.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3029351/original/070025000_1579686481-20200122-Penguatan-Rupiah-4.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3977742/original/073362000_1648519878-AP22081294676460.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3029348/original/099783600_1579686479-20200122-Penguatan-Rupiah-1.jpg)





:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5308548/original/014608000_1754547877-Gemini_Generated_Image_5zzcn95zzcn95zzc.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3149798/original/009852000_1591853345-20200611-Harga-Emas-Antam-Naik-ANGGA-3.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5579575/original/071534900_1778057266-5.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4816484/original/039630500_1714383627-fotor-ai-2024042913407.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5302025/original/025418900_1753969652-Gemini_Generated_Image_pok85upok85upok8.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4816486/original/000456500_1714383664-fotor-ai-20240429133814.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1745869/original/075005800_1508495004-20171020-Rupiah-Menguat-Tipis-atas-Dolar-Angga-1.jpg)