Jakarta – Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) menilai sektor industri padat karya berpotensi kolaps dalam beberapa tahun ke depan. Rentetan tekanan eksternal hingga regulasi yang dinilai belum sepenuhnya berpihak pada pelaku usaha menjadi pemicu utama kondisi memberatkan tersebut.
Direktur Eksekutif API, Danang Girindrawardana, mengungkapkan bahwa tekanan geopolitik global saat ini berdampak langsung pada industri tekstil di Tanah Air. Salah satu imbas terbesarnya adalah kenaikan harga bahan baku impor yang terus melonjak.
BACA JUGA:PHK Intai Sektor Padat Karya, BRIN Buka-Bukaan Pemicu Utamanya
BACA JUGA:Perebutkan 2 Ribu Posisi, 100 Ribu Orang Serbu Program Padat Karya Jakarta
BACA JUGA:Pramono Jamin Rekrutmen 2.843 Lowongan Padat Karya DKI Bebas Ordal
Sektor padat karya akan mendapatkan dampak paling cepat untuk potensial kolaps di tahun-tahun ke depan karena situasi geopolitik kita juga belum membaik, ujar Danang di Kantor API, Jakarta, dikutip Selasa (5/10/2026).
Selain isu geopolitik, tingginya ketergantungan pada bahan baku impor serta gempuran produk jadi impor ilegal yang masuk ke Pasar Domestik turut menjadi tantangan kronis. Tekanan beruntun ini terus membayangi para pengusaha tekstil selama beberapa tahun terakhir.
Di tengah situasi tersebut, Danang menyoroti potensi tekanan tambahan dari sisi regulasi, khususnya Rancangan Undang-Undang (RUU) Perlindungan Ketenagakerjaan yang dinilai kurang mendukung ekspansi dunia usaha.
Nah, situasinya belum membaik, justru malah diperberat dengan rancangan undang-undang ini. Jadi kita justru menambah double kekhawatirannya, ucap dia.
Padahal, Danang mengaku sempat optimistis terhadap tren pertumbuhan industri tekstil pada 2026 yang ditunjukkan oleh perbaikan kinerja ekspor sepanjang semester pertama.
Cuma kalau ini (RUU Ketenagakerjaan) diterapkan dan kemudian terjadi stagnasi di penjualan, maka ini menjadi kontraproduktif karena semuanya dikekang dengan aturan yang sangat ketat. Kita pesimis 2027 akan baik kalau aturan ini diterapkan, bebernya.
/2022/10/20/1604525335.jpg)
/2025/01/30/132458517.jpg)
/2026/06/10/159166935.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5382303/original/097438400_1760576399-Chief_Executive_Officer__CEO__Danantara__Rosan_Perkasa_Roeslani_-1.jpg)

:strip_icc()/kly-media-production/medias/922189/original/061254600_1436330199-tol-3.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9328650/original/075500600_1787203805-Menteri_Ketenagakerjaan__Menaker__Yassierli.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9365309/original/065355400_1791172685-Depositphotos_874855176_L.jpg)




:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9309012/original/011632200_1785214700-Gemini_Generated_Image_5o6uim5o6uim5o6u.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3271750/original/055065600_1603102549-20201019-Harga-Emas-Hari-Ini-Stabil-1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3458468/original/004833700_1621321944-20210518-Harga-Emas-Antam-1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3192688/original/061754900_1595929322-20200728-Harga-Emas-Tembus-Rp-1-Juta-per-Gram-3.jpg)
:strip_icc():format(webp):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/liputan6/watermark-gray-landscape-new.png,1180,20,0)/kly-media-production/medias/1937644/original/001119200_1519626925-1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9313336/original/086824700_1785634470-ChatGPT_Image_Aug_2__2026__08_33_41_AM.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4816486/original/000456500_1714383664-fotor-ai-20240429133814.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4816481/original/059395900_1714383540-fotor-ai-20240429133650.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9322011/original/064657000_1786514057-ChatGPT_Image_Aug_12__2026__12_53_39_PM.jpg)