Jakarta – Stimulus ekonomi yang digelontorkan pemerintah menjelang Imlek dan bulan puasa dinilai mampu memberi dampak positif, namun hanya bersifat sementara. Daya beli masyarakat disebut belum sepenuhnya pulih karena harga kebutuhan pokok seperti pangan masih berada di level tinggi.
Peneliti Pusat Makroekonomi dan Keuangan Indef, Abdul Manap Pulungan, mengatakan tekanan inflasi, khususnya pada sektor pangan, masih menjadi tantangan utama.
BACA JUGA:Harga Pangan Hari Ini 17 Februari 2026: Cabai Rawit Merah Sentuh Rp 89.350 per Kg
BACA JUGA:Harga Pangan Hari Ini 16 Februari 2026: Cabai Rawit Merah Tembus Rp 79.550 per Kg
BACA JUGA:Harga Pangan Merangkak Naik, Ini Biangkeroknya
“Daya beli itu sifatnya sementara, sekali libas saja. Sulit untuk mengangkat daya beli masyarakat karena inflasi masih tinggi, khususnya inflasi makanan,” ujar Pulungan kepada www.wmhg.org, Senin (16/2/2026).
Ia menjelaskan, inflasi tersebut terutama bersumber dari bahan makanan pokok, seperti beras dan komoditas pangan lain yang sangat dekat dengan kebutuhan sehari-hari masyarakat.
“Inflasi bahan makanan, seperti beras dan teman-temannya,” katanya.
Menurutnya, kenaikan harga bukan disebabkan oleh stok yang berlebih, melainkan karena pasokan yang menurun sementara permintaan meningkat. Lonjakan permintaan tidak hanya datang dari kebutuhan selama Ramadan, tetapi juga dipengaruhi oleh program pemerintah.
“Stok menurun karena demand naik. Bukan hanya untuk puasa, tapi juga untuk MBG,” jelasnya.
Meski demikian, Pulungan menilai kebijakan stimulus pemerintah tetap diperlukan, terutama untuk menjaga daya beli masyarakat berpenghasilan rendah.
“Tidak keliru. Tapi stimulus itu hanya mampu menjaga agar kelas bawah tetap bisa berkonsumsi,” ujarnya.
Ke depan, ia berharap pemerintah dapat fokus pada langkah yang lebih strategis dan berkelanjutan untuk meningkatkan daya beli. Salah satunya melalui penciptaan lapangan kerja yang lebih luas.
“Yang terpenting adalah bagaimana menciptakan lapangan kerja, karena itu menjadi sumber pendapatan bagi masyarakat,” pungkasnya.
/2025/12/19/1467958746.jpg)
/2021/11/26/1195231662.jpg)
/2020/10/25/1497612513.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5502850/original/087274900_1771048770-5.jpg)

/2025/06/29/1914523054.jpg)
/2025/10/05/1430246033.jpg)
/2025/12/20/614118427.jpg)




:strip_icc()/kly-media-production/medias/5219631/original/022997400_1747221145-20250514-Harga_Emas-ANG_3.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5472767/original/057429900_1768375315-2.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5472766/original/082116700_1768375313-1.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/4013695/original/083702900_1651632388-000_329D9V2.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/3532284/original/011004900_1628161432-20210805-Harga-emas-alami-penurunan-ANGGA-3.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5472770/original/094808400_1768375318-5.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/2375575/original/026127600_1538739777-20181005-Emas-Antam-6.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/976573/original/043185800_1441279137-harga-emas-5.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5489835/original/093910600_1769935832-7.jpg)