Jakarta – Pergerakan harga minyak pada kuartal II 2026 diprediksi tetap berada dalam tekanan volatilitas tinggi, meski muncul sinyal negosiasi antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang berpotensi meredakan konflik.
Pengamat Komoditas Wahyu Laksono menilai ketegangan geopolitik antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat masih menjadi faktor utama pembentuk harga minyak. Risiko gangguan pasokan di Selat Hormuz tetap membayangi pasar, meskipun terdapat perkembangan diplomasi.
BACA JUGA:Harga Minyak Dunia Naik Setelah Trump Mengancam Iran
BACA JUGA:Pemimpin Tertinggi Iran Dikabarkan Tak Sadarkan Diri, Jalani Perawatan di Qom
BACA JUGA:Menteri Trenggono Khawatir Ekspor Ikan Turun Imbas Perang Iran
BACA JUGA:Kepala Badan Pengawas Nuklir PBB Peringatkan Bahaya Serangan di Sekitar PLTN Bushehr Iran
Eskalasi militer yang melibatkan serangan langsung AS-Israel ke Iran memicu ketakutan akan gangguan pasokan di salah satu titik paling kritis di dunia: Selat Hormuz,” ujar Wahyu kepada www.wmhg.org, Senin (6/4/2026).
Di tengah eskalasi tersebut, Presiden Amerika Serikat Donald Trump disebut masih membuka ruang negosiasi dengan Iran dan optimistis konflik dapat segera diakhiri. Sejumlah laporan juga menyebut adanya komunikasi yang terus berlangsung serta dorongan menuju gencatan senjata, meski diiringi ancaman militer jika Selat Hormuz tidak kembali dibuka .
Trump bahkan disebut meyakini tujuan operasi militer hampir tercapai dan perang bisa segera diselesaikan. Ia juga memberi sinyal penghentian serangan tetap dimungkinkan meskipun kondisi Selat Hormuz belum sepenuhnya normal. Di sisi lain, wacana invasi darat Amerika Serikat ke Iran dinilai masih sebatas tekanan tanpa kejelasan arah kebijakan.
Namun, Wahyu mengingatkan potensi lonjakan harga tetap terbuka jika konflik kembali memanas, terutama bila terjadi gangguan terhadap infrastruktur minyak utama.
Jika terjadi blokade atau serangan pada infrastruktur minyak utama (seperti Terminal Kharg di Iran), harga bisa meroket hingga USD 120 per barel,” katanya.
Dengan kombinasi antara risiko konflik dan peluang negosiasi, harga minyak jenis Brent pada kuartal II hingga semester I 2026 diperkirakan bergerak dalam rentang luas, yakni USD 70 hingga USD 150 per barel. Rentang ini mencerminkan tarik-menarik antara sentimen negatif akibat konflik dan sentimen positif dari upaya deeskalasi yang masih berlangsung.

/2026/01/28/1419203316.jpg)
/2025/04/03/1366764008.jpg)
/2025/12/08/659294977.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/4089307/original/075313700_1657837181-Harga_Emas_Hari_Ini.jpeg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5476090/original/021358800_1768711106-89ca5fc3-1578-4cf0-8176-b43ea2ccde53.jpeg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/4762786/original/080700200_1709635134-20240305-Pelaporan_SPT-ANG_4.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5137861/original/069279700_1739965706-f606fa8e-0760-495d-b7ab-a14b1eae5495.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5520901/original/031279000_1772664806-4.jpg)




:strip_icc()/kly-media-production/medias/3043549/original/097902000_1580992201-20200206-Penggunaan-Kantong-Plastik-Masih-Marak-di-Pasar-Tebet-IQBAL-9.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5426614/original/039429500_1764311842-Mentan_Amran.jpeg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5540727/original/075070000_1774789628-Chief_Operating_Officer__COO__Danantara__Dony_Oskaria-29_Maret_2026b.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5549113/original/046291100_1775567089-5a8bebdd-a7a0-4d2c-8622-bdd424b7e039.jpeg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5541443/original/019109500_1774863184-Menteri_Pertanian__Mentan__Andi_Amran_Sulaiman-30_Maret_2026a.jpeg)